Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan video yang viral
di media sosial memperlihatkan letusan Gunung Anak Krakatau dari atas kapal
merupakan hoaks. Masyarakat diminta tidak mempercayai maupun menyebarluaskan
video yang belum terverifikasi tersebut.
Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangan
resminya, Sabtu (4/7/2026) menjelaskan, hasil verifikasi menunjukkan video
tersebut bukan rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini.
Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya
disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi/PVMBG dan MAGMA Indonesia.
Berdasarkan data pemantauan, Gunung Anak Krakatau mengalami
dua kali erupsi dalam bulan ini, yakni pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB dan 3
Juli 2026 pukul 11.50 WIB. Saat ini, aktivitas gunung api tersebut masih
menunjukkan aktivitas magmatik berenergi rendah.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang
berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten
Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Pengamatan aktivitas gunung tersebut dilakukan melalui dua
Pos Pengamatan Gunung Api, yakni di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran,
Kabupaten Serang, Banten.
Ia menjelaskan, Gunung Anak Krakatau memiliki catatan
sejarah erupsi besar pada 1883 yang memicu tsunami. Selain itu, guncangan gempa
bumi memicu erupsi dan longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau yang
menyebabkan tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018.
Setelah peristiwa tersebut, erupsi berskala rendah
berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebagai fase pertumbuhan kembali tubuh
gunung api. Hingga kini, jeda erupsi masih berlangsung.
Lana Saria juga meluruskan informasi lain yang menyebut
radius rekomendasi Gunung Anak Krakatau mencapai 5 kilometer. Menurutnya, informasi
tersebut tidak benar.
“Rekomendasi resmi yang berlaku saat ini adalah masyarakat,
wisatawan, dan nelayan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 3
kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau,” katanya.
Badan Geologi mengimbau masyarakat agar selalu mengacu pada
informasi resmi yang dikeluarkan PVMBG dan tidak mudah terpengaruh informasi
yang tidak memiliki sumber jelas. Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau
juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya awan panas,
aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Selain itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung
diminta tetap tenang dan tidak mempercayai isu yang menyebut erupsi Gunung Anak
Krakatau akan memicu tsunami. Warga dapat beraktivitas seperti biasa dengan
tetap mengikuti arahan BPBD setempat.