Harga emas berbalik menguat pada perdagangan Rabu (1/7/2026)
waktu Amerika Serikat (AS) atau malam WIB, setelah sebelumnya mencatat kinerja
kuartalan terburuk dalam 13 tahun terakhir.
Penguatan terjadi meski logam mulia masih tertekan oleh
kekhawatiran pasar terhadap potensi suku bunga tinggi di AS yang mengurangi
daya tarik aset tanpa imbal hasil tersebut.
Pada perdagangan waktu setempat, kontrak berjangka emas
diperdagangkan di level US$ 4.041,30 per ons troi. Sementara itu, harga emas
spot naik 0,49% menjadi US$ 4.025,89 per ons troi.
Meski berhasil menguat, harga emas masih jauh di bawah rekor
tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 5.586,20 per ons troi yang tercapai pada
29 Januari 2026. Sejak saat itu, harga emas terus melemah karena investor mulai
mengantisipasi peluang suku bunga yang tetap tinggi di AS.
Sepanjang kuartal II 2026 yang berakhir pada 30 Juni, harga
emas anjlok sekitar 16%, menjadi penurunan kuartalan terdalam sejak kuartal II
2013. Secara tahun berjalan (year-to-date), harga emas juga masih terkoreksi 7,76%.
Meski mengalami tekanan, sejumlah analis menilai emas masih
menjadi instrumen penting dalam portofolio investasi, terutama di tengah
meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Pada laporan Global Investment Outlook pertengahan tahun,
Amundi Investment Institute menyebut kebijakan moneter yang semakin ketat,
tingginya utang publik, serta langkah bank sentral dunia yang terus
mendiversifikasi cadangan devisa dari aset berbasis dolar AS akan tetap
menopang permintaan emas pada paruh kedua 2026.
Kepala Amundi Investment Institute Monica Defend mengatakan,
investor perlu memiliki portofolio yang mampu menghadapi berbagai skenario
ekonomi.
“Investor menghadapi dunia di mana independensi bank sentral
sedang diuji, inflasi semakin bergejolak, dan risiko konsentrasi terus
meningkat. Portofolio terbaik untuk kondisi seperti ini harus terdiversifikasi,
termasuk pada mata uang, aset riil, dan emas,” katanya.
Survei tahunan World Gold Council juga menunjukkan semakin
banyak bank sentral di dunia yang berencana menambah cadangan emas dalam 12
bulan ke depan.
Staunovo memperkirakan permintaan emas dari bank sentral,
diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS, serta meningkatnya kekhawatiran
terhadap utang global akan tetap menjadi faktor pendukung harga emas dalam
jangka panjang.
“Kami memperkirakan permintaan emas dari bank sentral,
diversifikasi dari dolar AS, dan kekhawatiran terhadap utang global akan tetap
menjadi penopang struktural. Meskipun dalam jangka pendek harga cenderung
bergerak konsolidatif, prospek 12 bulan ke depan masih tetap positif,”
pungkasnya.