Industri perasuransian Indonesia memasuki fase baru di tengah meningkatnya tekanan ekonomi makro. IFG Progress menilai keberlanjutan profitabilitas perusahaan asuransi tidak lagi -->

Industri perasuransian Indonesia memasuki fase baru di tengah meningkatnya tekanan ekonomi makro. IFG Progress menilai keberlanjutan profitabilitas perusahaan asuransi tidak lagi

Senin, 20 Juli 2026

 

Industri perasuransian Indonesia memasuki fase baru di tengah meningkatnya tekanan ekonomi makro. IFG Progress menilai keberlanjutan profitabilitas perusahaan asuransi tidak lagi hanya bergantung pada pertumbuhan premi, tetapi semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola risiko, memperkuat underwriting, serta menjaga kualitas portofolio.

 


Berdasarkan laporan IFG Progress yang dikutip pada Minggu (19/7/2026), industri asuransi jiwa masih mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026. Laba bersih sektor tersebut meningkat 44,5% secara year on year (yoy) menjadi Rp 7,7 triliun. Pertumbuhan itu ditopang efisiensi beban operasional serta pengelolaan klaim yang lebih baik.

Senior Research Associate IFG Progress Ibrahim Kholilul Rohman mengatakan keberlanjutan kinerja industri akan sangat bergantung pada penguatan bisnis inti masing-masing perusahaan asuransi jiwa.

"Ke depan, keberlanjutan profitabilitas industri perlu didukung oleh penguatan kinerja underwriting, mengingat kontribusi hasil investasi masih rentan terhadap dinamika pasar keuangan," ujar Ibrahim.

Pada sektor asuransi umum, sejumlah lini usaha masih membukukan loss ratio yang terkendali. Namun, beberapa segmen mulai menghadapi tekanan akibat meningkatnya klaim.

Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi strategi seleksi risiko, penetapan tarif premi, hingga pengelolaan reasuransi, terutama pada lini usaha yang memiliki loss ratio di atas 100%.

Meski tekanan klaim meningkat, kinerja industri asuransi umum masih tergolong solid. Pendapatan underwriting relatif stabil di tengah pertumbuhan premi yang moderat, didukung efisiensi biaya serta penerapan selektivitas risiko. Dari sisi lain, industri tetap menghadapi kenaikan klaim bruto dan penurunan hasil investasi.

Kondisi tersebut membuat laba bersih industri asuransi umum tetap meningkat menjadi sekitar Rp 3,7 triliun pada kuartal I 2026. IFG Progress merekomendasikan perusahaan terus memperkuat disiplin underwriting dan pengendalian klaim sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Memasuki paruh kedua 2026, tantangan industri diperkirakan semakin besar seiring perubahan kondisi ekonomi makro. Ibrahim menilai sejumlah indikator ekonomi pada Mei dan Juni 2026 menunjukkan tekanan eksternal tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga mulai memengaruhi permintaan domestik, stabilitas sektor eksternal, hingga arah kebijakan moneter.

"Dengan demikian, industri asuransi dan penjaminan memasuki fase di mana profitabilitas akan semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola risiko, bukan semata-mata oleh pertumbuhan premi," katanya.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan cadangan devisa menjadi tantangan utama pada kuartal II 2026 yang berpotensi berlanjut hingga semester II 2026.

Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan biaya reasuransi luar negeri dan biaya penggantian aset impor sehingga memberikan tekanan pada lini bisnis engineering, marine cargo, properti, dan kendaraan bermotor.

Pada saat yang sama, kenaikan inflasi juga mendorong meningkatnya biaya layanan kesehatan, material konstruksi, serta suku cadang kendaraan.