Jika sebelumnya segmen low cost green car (LCGC) menjadi pilihan utama masyarakat yang menginginkan mobil hemat bahan bakar dengan harga terjangkau -->

Jika sebelumnya segmen low cost green car (LCGC) menjadi pilihan utama masyarakat yang menginginkan mobil hemat bahan bakar dengan harga terjangkau

Sabtu, 04 Juli 2026

 Jika sebelumnya segmen low cost green car (LCGC) menjadi pilihan utama masyarakat yang menginginkan mobil hemat bahan bakar dengan harga terjangkau, kini mobil listrik mulai hadir di kelas entry level dengan harga yang semakin kompetitif.



Perkembangan tersebut membuat banyak calon pembeli mulai membandingkan keduanya. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah mobil listrik atau LCGC menawarkan biaya kepemilikan yang lebih rendah jika digunakan selama 5 hingga 10 tahun.

Pembunuh Prostat Ditemukan! Para Pria Harus Membacanya Sekarang!

Untuk menjawabnya, perbandingan tidak cukup hanya melihat harga beli. Biaya operasional, perawatan, pajak kendaraan, ketahanan komponen, hingga nilai jual kembali juga menjadi faktor penting yang menentukan total biaya kepemilikan kendaraan dalam jangka panjang.

Perbandingan Harga Beli Mobil Listrik dan LCGC

Dari sisi harga awal, mobil LCGC masih menjadi pilihan paling terjangkau. Model seperti Honda Brio Satya, Toyota Agya, maupun Daihatsu Sigra dipasarkan dengan harga di bawah Rp 200 juta.

Sementara itu, mobil listrik entry level umumnya dijual pada kisaran Rp 190 juta hingga lebih dari Rp 300 juta, tergantung merek dan spesifikasi yang ditawarkan.

Meski demikian, selisih harga tersebut semakin mengecil berkat berbagai insentif pemerintah. Kendaraan listrik yang memenuhi persyaratan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) memperoleh fasilitas PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP) sehingga hanya dikenakan PPN sebesar 1%.

Sebaliknya, mobil LCGC kini tetap dikenakan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) sebesar 3%. Kondisi ini membuat harga mobil listrik semakin kompetitif dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Biaya Operasional Harian Mobil Listrik Jauh Lebih Rendah

Keunggulan terbesar mobil listrik terlihat pada biaya penggunaan sehari-hari. Apabila pengisian daya dilakukan menggunakan listrik rumah, biaya operasional mobil listrik entry level rata-rata hanya berkisar Rp 150 hingga Rp 250 per kilometer.

Sebagai pembanding, mobil LCGC yang mampu mencatat konsumsi bahan bakar sekitar 15–20 kilometer per liter tetap membutuhkan biaya sekitar Rp 600 hingga Rp 800 per kilometer dengan asumsi menggunakan BBM nonsubsidi.


Jika kendaraan digunakan sejauh 1.000 kilometer setiap bulan, pemilik mobil listrik dapat menghemat biaya energi hingga sekitar 70% dibandingkan pengguna mobil berbahan bakar bensin.

Dalam periode lima tahun, penghematan tersebut dapat mencapai puluhan juta rupiah sehingga mampu mengimbangi selisih harga pembelian di awal.

Perbedaan Biaya Perawatan dan Pajak Tahunan

Selain konsumsi energi, biaya perawatan juga menjadi pembeda utama antara mobil listrik dan LCGC. Mobil LCGC menggunakan mesin pembakaran internal yang memiliki ratusan komponen bergerak.

Pemilik kendaraan harus melakukan servis berkala, termasuk penggantian oli mesin, filter oli, filter udara, busi, cairan pendingin, hingga komponen lain yang mengalami keausan.

Seiring bertambahnya usia kendaraan, biaya servis rutin biasanya ikut meningkat. Sebaliknya, mobil listrik memiliki sistem penggerak yang jauh lebih sederhana. Kendaraan ini tidak memerlukan penggantian oli mesin maupun berbagai komponen pendukung mesin pembakaran.

Perawatan rutin umumnya hanya mencakup pemeriksaan sistem pengereman, filter kabin, ban, suspensi, serta sistem kelistrikan. Keuntungan lain juga datang dari sisi pajak kendaraan.

Pada berbagai daerah, pemerintah memberikan insentif berupa pengurangan atau bahkan pembebasan pajak kendaraan bermotor (PKB) untuk kendaraan listrik sesuai kebijakan pemerintah daerah masing-masing.

Akibatnya, pajak tahunan mobil listrik umumnya jauh lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.

Sebagai ilustrasi, apabila pajak tahunan mobil LCGC berada di kisaran Rp 2 juta, pajak mobil listrik di sejumlah daerah bisa hanya beberapa ratus ribu rupiah atau bahkan memperoleh pembebasan sesuai regulasi yang berlaku.

Dalam jangka waktu lima hingga sepuluh tahun, selisih biaya pajak dan perawatan tersebut dapat menghasilkan penghematan yang cukup besar.

Ketahanan Baterai dan Nilai Jual Kembali

Meski menawarkan biaya operasional yang rendah, masih banyak calon konsumen yang mempertanyakan ketahanan baterai mobil listrik. Saat ini sebagian besar produsen memberikan garansi baterai hingga delapan tahun atau sekitar 160.000 kilometer.

Garansi tersebut bertujuan memberikan rasa aman kepada konsumen apabila terjadi penurunan performa baterai di luar batas yang ditentukan pabrikan. Di sisi lain, pasar mobil bekas LCGC masih lebih matang.

Tingginya permintaan membuat nilai jual kembali mobil LCGC relatif stabil dibandingkan mobil listrik yang pasar bekasnya masih terus berkembang. Selain itu, mobil LCGC memiliki keunggulan dari sisi jaringan bengkel umum dan ketersediaan suku cadang yang sudah tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Bagi pengguna yang sering melakukan perjalanan antarkota atau tinggal di wilayah yang infrastruktur pengisian daya kendaraan listriknya belum memadai, mobil LCGC masih menawarkan fleksibilitas yang lebih baik.

Mobil Listrik atau LCGC, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan masing-masing pengguna. Bagi masyarakat yang sehari-hari berkendara di kawasan perkotaan, memiliki akses pengisian daya di rumah, dan ingin menekan biaya operasional bulanan semaksimal mungkin, mobil listrik menjadi pilihan yang lebih ekonomis dalam jangka panjang.

Namun, bagi pengguna yang lebih sering melakukan perjalanan jarak jauh, membutuhkan kemudahan pengisian bahan bakar di berbagai daerah, serta mempertimbangkan nilai jual kembali yang lebih stabil, LCGC masih menjadi pilihan yang sangat rasional.

Pada akhirnya, kedua jenis kendaraan memiliki keunggulan masing-masing. Mobil listrik unggul dalam efisiensi energi, biaya perawatan, dan insentif pajak, sedangkan LCGC menawarkan harga beli yang relatif lebih rendah, jaringan layanan purnajual yang luas, serta kemudahan penggunaan di berbagai kondisi wilayah Indonesia.