Kelompok Houthi yang didukung Iran telah melancarkan serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi. Namun, dua rudal balistik berhasil dicegat.
Di Yanbu, dua rudal balistik yang mengarah ke instalasi minyak berhasil dicegat sistem pertahanan udara Patriot buatan AS yang dioperasikan militer Yunani berdasarkan kerja sama pertahanan dengan Arab Saudi.
Juru Bicara Militer Houthi Yahya Saree mengklaim kelompoknya berhasil menyerang fasilitas milik perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Aramco, di Jizan dan Yanbu.
Rekaman video yang beredar di media sosial dan telah diverifikasi Reuters memperlihatkan kepulan asap tebal dari arah kilang Aramco di Jizan.
Sementara itu, dua sumber perdagangan energi di Asia menyebut terdapat indikasi kerusakan pada fasilitas penyimpanan bahan bakar dan minyak di wilayah tersebut. Aramco belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.
Yanbu merupakan pelabuhan utama ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah dengan kapasitas pengiriman jutaan barel minyak per hari. Jalur tersebut kini menjadi rute utama ekspor minyak Saudi setelah Selat Hormuz diblokade Iran.
Adapun Jizan, yang berada dekat perbatasan Yaman, memiliki kilang minyak dengan kapasitas sekitar 400.000 barel per hari.
Di Yaman, angkatan udara pemerintah yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan terhadap lokasi peluncuran rudal, pesawat nirawak, serta gudang senjata milik Houthi di Provinsi Marib dan Al Jawf.
Sebelumnya, koalisi militer pimpinan Arab Saudi juga mengumumkan telah menggempur posisi militer Houthi di pelabuhan Hodeidah pada Jumat (24/7/2026).
Pejabat Yaman mengatakan kedua pihak dalam perang saudara kini mulai memobilisasi pasukan di berbagai garis depan.
Arab Saudi telah memimpin koalisi negara-negara Arab melawan Houthi selama lebih dari satu dekade sejak kelompok tersebut merebut ibu kota Yaman, Sanaa.
Perang saudara di Yaman sempat mereda setelah gencatan senjata pada 2022. Namun, kesepakatan tersebut runtuh bulan ini ketika Houthi meningkatkan dukungan terhadap Iran seusai serangan militer AS dan Israel.
Dalam sepekan terakhir, Houthi juga mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi. Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi menyatakan seluruh fasilitas minyak Saudi dapat menjadi target serangan.
Eskalasi konflik tersebut turut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.