Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menerjunkan 1.476 patriot muda ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia melalui program tim ekspedisi patriot (TEP) 2026. -->

Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menerjunkan 1.476 patriot muda ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia melalui program tim ekspedisi patriot (TEP) 2026.

Senin, 27 Juli 2026

 


Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menerjunkan 1.476 patriot muda ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia melalui program tim ekspedisi patriot (TEP) 2026. Para peserta akan memetakan potensi wilayah, mengidentifikasi persoalan masyarakat, hingga merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis data untuk mendorong pembangunan kawasan transmigrasi.

 

Pembekalan peserta digelar di Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengatakan pembekalan memasuki hari kedua sebelum seluruh peserta diberangkatkan ke lokasi penugasan.

 

 “Ribuan peserta tersebut terdiri atas 39 profesor, 10 tenaga ahli, 158 doktor, 49 magister, 214 magister terapan, dan 937 sarjana. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi dan disiplin ilmu yang akan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing kawasan transmigrasi,” jelas Viva Yoga, Minggu (26/7/2026).

 

Menurutnya, program TEP 2026 merupakan tindak lanjut dari hasil riset tim sebelumnya yang berfokus pada penelitian. Pada tahun ini para peserta mulai mengimplementasikan hasil riset melalui pengembangan program dan produk unggulan di kawasan transmigrasi.

 

Viva mengatakan orientasi utama program transmigrasi saat ini bukan hanya memindahkan penduduk, tetapi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan potensi lokal.

 

Karena itu, seluruh peserta dibekali pemahaman mengenai kondisi ekonomi, sosial, budaya, hingga politik di setiap daerah penugasan. Menurutnya, setiap kawasan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pendekatan kepada masyarakat juga harus berbeda.

 

"Mereka dibekali agar memahami situasi lapangan, karena kondisi ekonomi, sosial, dan politik setiap kawasan ditentukan oleh struktur sosial masyarakat di kawasan. Jadi mereka tidak kaget lagi, mereka punya pemahaman yang komprehensif," tuturnya.

 

Dengan bekal tersebut, para peserta diharapkan mampu berinteraksi dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.

 

Viva menegaskan pembangunan kawasan transmigrasi harus dilakukan secara terarah, berkelanjutan, serta memiliki target yang terukur. Oleh sebab itu, hasil pemetaan dan data yang dikumpulkan TEP akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah.

 

"Semua proses pembangunan harus berarah, berkelanjutan, dan bisa diukur. Kita harapkan tim ekspedisi patriot memberikan data yang objektif sesuai kondisi di lapangan sehingga bisa menjadi rekomendasi kebijakan untuk pembangunan kawasan transmigrasi selanjutnya," ucapnya.

 

Ia juga mengingatkan seluruh peserta agar menjaga kesehatan dan keselamatan selama menjalankan tugas serta mampu menghormati budaya masyarakat setempat.

 

"Peserta harus sehat jasmani dan rohani, menjaga kesehatan dan keselamatan, serta selalu berkomunikasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah sehingga kerja-kerja peningkatan kapasitas dan inovasi pembangunan desa bisa berjalan dengan baik," ujarnya.