Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah militer Iran mengancam akan membombardir wilayahnya sendiri apabila pasukan AS melancarkan invasi -->

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah militer Iran mengancam akan membombardir wilayahnya sendiri apabila pasukan AS melancarkan invasi

Rabu, 22 Juli 2026

 

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah militer Iran mengancam akan membombardir wilayahnya sendiri apabila pasukan AS melancarkan invasi darat. Pernyataan itu muncul di tengah pembahasan Washington mengenai berbagai opsi operasi militer terhadap Teheran yang memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Teluk Persia.

 


Juru Bicara Militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia menegaskan negaranya tidak akan membiarkan wilayah Iran diduduki pasukan asing.

"Jika Amerika menduduki wilayah kami, kami bahkan akan membom wilayah kami sendiri. Inilah logika perang," kata Akrami-Nia dalam siaran televisi pemerintah Iran, Selasa (21/7/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Komando Pusat AS memasuki hari ke-10 serangan terhadap sasaran di Iran. Sementara itu, Presiden Donald Trump disebut akan menentukan langkah lanjutan dalam beberapa hari ke depan, termasuk kemungkinan operasi darat yang kini mulai dibahas secara terbuka.

Laporan The Washington Post menyebut Pentagon sedang menyiapkan sejumlah opsi operasi darat di Iran yang tidak mengarah pada invasi penuh, tetapi berpotensi melibatkan ribuan personel militer selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Gedung Putih menyatakan Pentagon hanya diminta menyiapkan berbagai alternatif dan belum ada keputusan akhir dari Presiden Trump.

Pada sisi lain, mantan menteri luar negeri Iran yang kini menjadi anggota parlemen, Manouchehr Mottaki, mendorong pemerintah mengambil langkah lebih agresif terhadap AS.

"Ancaman AS semakin intensif, dan mereka mengatakan akan merebut Pulau Kharg dan mengambil alih fasilitas minyak Iran," kata Mottaki.

Ia bahkan mengusulkan agar Iran tidak hanya menyerang pangkalan militer AS di kawasan, tetapi juga menangkap prajurit Amerika.

"Saya sudah lama menganjurkan perang darat. Kita harus merebut salah satu pangkalan AS di wilayah tersebut, menangkap pasukannya, dan membawa mereka kembali ke negara kita," ujarnya.

Anggota parlemen Iran Ahmad Bakhshayesh Ardestani juga menyebut Iran dapat mempertimbangkan operasi darat ke Kuwait dan Bahrain apabila AS benar-benar menginvasi wilayah Iran.

Menurutnya, apabila AS berhasil menguasai Pulau Kharg, penguasaan tersebut hanya akan berlangsung sementara karena pulau itu tetap berada dalam jangkauan rudal Iran.

"Rudal Iran dari Semnan, Zahedan, Isfahan, dan tempat lain dapat mencapainya. Menduduki Pulau Kharg akan mengubahnya menjadi target bagi Iran," kata Ardestani.

Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul pula spekulasi mengenai kemungkinan operasi Iran ke Pulau Bubiyan, Kuwait. Sejumlah tokoh politik Iran dan akun media sosial membahas skenario penggunaan pasukan elite Saberin dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui wilayah Irak selatan apabila AS melakukan operasi di Iran.

Meski demikian, laporan mengenai pergerakan militer Iran menuju perbatasan Kuwait belum dapat diverifikasi secara independen.

Sebelumnya, pada 1 Mei 2026, otoritas Kuwait mengeklaim telah menangkap empat orang yang mengaku anggota IRGC setelah mendarat di Pulau Bubiyan menggunakan kapal nelayan. Pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan para perwira memasuki perairan Kuwait akibat gangguan sistem navigasi.

Trump sebelumnya juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi lebih besar apabila terus menyerang kepentingan AS di kawasan.

"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara AS, mereka akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat," tulis Trump melalui media sosial Truth Social.