Korban jiwa dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus bertambah seiring -->

Korban jiwa dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus bertambah seiring

Senin, 20 Juli 2026

 

Korban jiwa dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus bertambah seiring meningkatnya intensitas serangan kedua negara.

 


Serangan Iran ke pangkalan militer AS di Yordania mengakibatkan dua tentara AS tewas, satu orang hilang, dan empat lainnya harus menjalani perawatan di rumah sakit. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026, sedikitnya 16 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 430 lainnya terluka.

Dilansir dari Al Jazeera, otoritas Iran menyebut dari pihak mereka sedikitnya 50 orang meninggal dunia dan 517 lainnya terluka akibat serangan terbaru AS yang berlangsung sejak awal Juli 2026.

Hingga kini, pemerintah Iran belum mengungkapkan secara menyeluruh besaran kerusakan infrastruktur maupun kerugian material akibat serangan AS yang telah memasuki hari kedelapan.

Konflik kedua negara juga semakin berfokus pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam dunia.

Profesor Hubungan Internasional dari Georgetown University di Qatar, Mehran Kamrava, menilai Iran sejauh ini masih menerapkan prinsip serangan yang proporsional dengan membidik fasilitas yang sejenis dengan target serangan AS di wilayah Iran.

Meski demikian, ia memperingatkan strategi tersebut berisiko menjadi bumerang.Seloom mengatakan Teheran berharap gangguan terhadap distribusi minyak dunia akan mendorong kenaikan harga energi sehingga memicu tekanan politik di dalam negeri AS dan memaksa Presiden Donald Trump mengambil sikap yang lebih lunak dalam perundingan.

 

Dari sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim telah memberikan "pukulan berat" terhadap pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, Oman, dan beberapa negara lainnya.

Brigadir Jenderal Yadollah Javani menyatakan operasi militer Iran akan terus berlanjut. Ia juga menuduh AS berupaya menutupi kekalahan militernya melalui serangan lanjutan serta berusaha mengembalikan kondisi Selat Hormuz seperti sebelum perang.

Javani turut menegaskan Iran akan membalas pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut Kamrava, Iran berpotensi melakukan langkah yang justru merugikan kepentingannya sendiri jika terus memperluas serangan di kawasan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

Ia menilai sejumlah negara Teluk telah menyiapkan jalur alternatif untuk mengekspor minyak dan gas sehingga ketergantungan terhadap Selat Hormuz mulai berkurang.

Sementara itu, analis politik internasional dari Doha Institute for Graduate Studies, Muhanad Seloom, menilai serangan terbaru AS bertujuan membuka jalan bagi penggunaan kekuatan militer di sekitar Selat Hormuz dengan mengganggu jalur transportasi di kawasan tersebut.

Menurutnya, Iran memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap AS karena tidak memiliki kemampuan untuk mengalahkan Washington melalui konfrontasi militer secara langsung.