Otoritas Turki menahan 17 pejabat klub sepak bola dalam
penyelidikan dugaan taruhan ilegal dan pengaturan pertandingan yang terus
meluas. Kasus ini menjadi salah satu skandal terbesar yang mengguncang dunia
sepak bola Turki dalam beberapa tahun terakhir.
Penahanan dilakukan melalui penggerebekan serentak di
Istanbul dan sembilan provinsi lainnya pada Jumat (17/7/2026).
Berdasarkan laporan media setempat, para tersangka diduga
memasang taruhan ketika masih menjabat dalam posisi resmi di klub masing-masing.
Hasil pemeriksaan terhadap data platform taruhan legal periode 2020 hingga 2026
menjadi dasar penyelidikan aparat.
Kementerian ESDM: Program B50 Hemat Devisa Rp 170 Triliun
pada 2026
Di antara mereka yang diamankan terdapat empat eksekutif
dari dua klub raksasa Turki, yakni Galatasaray dan Besiktas. Selain 17 orang
yang telah ditahan, aparat juga menerbitkan surat perintah penahanan terhadap
dua tersangka lainnya.
Menteri Kehakiman Turki, Akin Gurlek, menegaskan pemerintah
akan terus memberantas praktik taruhan ilegal dan pengaturan pertandingan yang mencederai
integritas olahraga.
"Kami akan terus melanjutkan perjuangan melawan taruhan
ilegal, kekerasan dalam olahraga, pengaturan pertandingan, dan hasil kejahatan
dengan tekad yang kuat. Setiap tindakan yang merusak semangat olahraga dan
kredibilitas sepak bola akan ditindak tegas," ujarnya dilansir Daily Mail,
Jumat (17/7/2026).
Kasus ini bermula pada Oktober tahun lalu ketika Federasi
Sepak Bola Turki membuka penyelidikan terhadap dugaan keterlibatan sejumlah
wasit dalam aktivitas taruhan. Seiring berjalannya proses investigasi, cakupan
penyelidikan meluas hingga melibatkan pemain serta pejabat klub, termasuk dari
kompetisi kasta tertinggi Super Lig.
Ratusan individu kemudian dilaporkan ke dewan disiplin
federasi, sementara puluhan lainnya menghadapi proses pidana.
Skandal tersebut menjadi pukulan bagi sepak bola Turki yang
dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif. Turki
sebelumnya berhasil kembali tampil di Piala Dunia setelah penantian selama 24
tahun, meski langkah mereka terhenti di fase grup.
Pada sisi lain, negara itu juga dijadwalkan menjadi tuan
rumah bersama Piala Eropa (Euro) 2032 bersama Italia. Hingga kini, proses
penyelidikan masih berlangsung dan otoritas Turki belum mengungkap identitas
seluruh tersangka maupun rincian dugaan pelanggaran yang disangkakan kepada
masing-masing pihak.