Seorang pejabat Prancis menuding Amerika Serikat (AS)
sebagai pihak yang bersalah atas gelombang panas ekstrem yang tengah melanda
Eropa. Pejabat Prancis tersebut menilai tingginya emisi gas rumah kaca yang
dihasilkan AS sangat berkontribusi memperparah pemanasan global, sehingga
memicu cuaca ekstrem yang kini menelan ribuan korban.
Wakil Wali Kota Paris Bidang Hubungan Internasional Audrey
Pulvar mengatakan AS memikul tanggung jawab yang signifikan sebagai salah satu
penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.
Pernyataan itu disampaikan setelah sejumlah wisatawan,
jurnalis, dan influencer asal AS mengkritik minimnya penggunaan pendingin udara
(AC) di Paris ketika Eropa dihantam gelombang panas.
"Kepada para jurnalis Amerika dan influencer media
sosial, selama beberapa hari ini sebagian dari Anda telah mengkritik dan
mengolok-olok Paris karena kota ini tidak memiliki AC di setiap ruangan. Ya
Tuhan, ini sangat menggelikan!" tulis Pulvar melalui akun Instagram
pribadinya.
Ia kemudian blak-blakan menyinggung besarnya kontribusi AS
terhadap emisi gas rumah kaca.
"Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar
kedua di dunia, Anda memikul tanggung jawab yang signifikan atas pemanasan
global dan konsekuensi yang kami, di Prancis, alami. Kota-kota Anda (di AS),
yang 90% menggunakan pendingin udara, tidak terlepas dari hal ini," lanjut
Pulvar, dikutip dari The Independent UK, Selasa (30/6/2026).
Data dari Our World in Data menunjukkan, AS menyumbang
sekitar 13% emisi karbon dioksida (CO2) global, menjadikan negara yang dipimpin
Presiden Donald Trump itu sebagai penghasil emisi terbesar kedua di dunia
setelah China yang berkontribusi sekitar 32%. Sedangkan 27 negara anggota Uni
Eropa secara gabungan menyumbang sekitar 6% emisi CO2 global.
Gelombang panas yang melanda Eropa dalam beberapa hari
terakhir menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah. Salah satunya
yang melanda Prancis, suhu di sejumlah wilayah dilaporkan mencapai 44 derajat
celsius. Menurut laporan Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO), gelombang panas telah mengakibatkan lebih dari 1.300
angka kematian di berbagai negara Eropa.
Sementara itu, pada sisi lain, perbedaan penggunaan
pendingin udara juga menjadi sorotan. Berdasarkan data Badan Energi
Internasional, hanya sekitar 20% rumah tangga di Eropa yang memiliki AC,
sedangkan di AS angkanya mencapai sekitar 90%.