Volkswagen mempertimbangkan pemangkasan sekitar 50.000
karyawan tambahan sebagai bagian dari upaya menekan biaya dan meningkatkan daya
saing di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat.
Jika rencana tersebut terealisasi, total pengurangan tenaga
kerja di grup Volkswagen dapat mencapai 100.000 orang.
Chief Executive Officer (CEO) Volkswagen Oliver Blume
menyampaikan, perusahaan masih mengevaluasi kebutuhan penyesuaian jumlah tenaga
kerja di seluruh merek, perusahaan, dan wilayah operasional.
"Kami saat ini sedang menilai di seluruh merek,
perusahaan, dan wilayah mengenai penyesuaian yang benar-benar diperlukan dan
memungkinkan untuk dilakukan," ujar Blume dalam memo internal yang
diperoleh Reuters.
Sebelumnya, Volkswagen telah menyepakati pengurangan sekitar
50.000 karyawan di seluruh grup, termasuk di anak usaha Porsche dan Audi.
Namun, hasil evaluasi internal menunjukkan perusahaan masih menghadapi
kesenjangan biaya sekitar 20% dibandingkan para pesaingnya sehingga diperlukan
langkah efisiensi lanjutan.
Dalam memo tersebut disebutkan, secara teoretis kondisi
tersebut dapat berarti tambahan pengurangan sekitar 50.000 tenaga kerja di
seluruh dunia.
Volkswagen tengah menghadapi tekanan dari berbagai sisi,
mulai dari penurunan laba, beban tarif miliaran euro, persaingan yang semakin
ketat di pasar China, hingga tuntutan meningkatkan efisiensi jaringan pabrik di
Jerman.
Memo tersebut muncul setelah perwakilan pekerja mendesak
manajemen menjelaskan rencana restrukturisasi yang dipresentasikan Blume kepada
dewan pengawas perusahaan pada Kamis (10/7/2026).
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut,
perwakilan pekerja menolak sejumlah usulan manajemen yang mencakup pemutusan
hubungan kerja (PHK) serta kemungkinan penutupan empat pabrik.
Blume mengakui hingga saat ini Volkswagen belum menemukan
model bisnis yang kompetitif untuk sejumlah fasilitas produksi, yakni pabrik
Emden, Hanover, Zwickau, dan Neckarsulm pada dekade 2030-an.
Meski demikian, ia menegaskan perusahaan lebih mengutamakan
solusi alternatif dibandingkan menutup fasilitas produksi.
Sebelumnya, Blume sempat mengusulkan pemanfaatan pabrik yang
kapasitasnya belum optimal untuk mendukung industri pertahanan atau memproduksi
kendaraan Volkswagen asal China di Eropa.
Dalam pernyataan resmi seusai pertemuan dengan para pemangku
kepentingan, Volkswagen tidak menyinggung rencana PHK maupun penutupan pabrik.
Perusahaan hanya mengumumkan rencana mengurangi kapasitas
produksi serta memangkas jumlah model kendaraan secara bertahap hingga sekitar
50%.
Namun, sejumlah analis menilai langkah tersebut belum cukup
untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi Volkswagen saat ini. Blume
mengatakan masih akan ada pembahasan lanjutan untuk mencari solusi terbaik bagi
masa depan perusahaan.
"Tentu dapat dipahami bahwa belum semua hal
direncanakan hingga ke detail terakhir dan masih ada sejumlah isu yang perlu
didiskusikan serta dievaluasi lebih lanjut. Akan ada lebih banyak pertemuan
untuk bekerja keras menemukan solusi terbaik," ujarnya.