Amerika Serikat (AS)
disebut akan terus memberikan informasi intelijen kepada Ukraina, termasuk data
yang dapat digunakan untuk melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi
Rusia.
Menurut laporan majalah The Atlantic dengan mengutip
sejumlah sumber, kebijakan itu disebut berkaitan dengan posisi Direktur CIA
John Ratcliffe. Sebelumnya, Politico melaporkan AS dan Ukraina telah memulihkan
tingkat pertukaran intelijen seperti sebelumnya. Pertukaran tersebut sempat
dibatasi atas inisiatif Washington.
Menurut The Atlantic, AS kini hanya memberikan informasi
intelijen secara gratis kepada Kyiv. Informasi tersebut mencakup paket data
mengenai target yang dapat digunakan untuk menyerang posisi pasukan Rusia dan
infrastruktur energi negara tersebut, dikutip dari Antara, Senin (10/8/2026).
Pada Maret 2025, sejumlah media Barat melaporkan AS
menghentikan sementara pembagian informasi intelijen dengan Ukraina. Washington
pada saat yang sama juga memblokir sekutunya untuk berbagi intelijen dengan
Kyiv. Namun, AS kemudian pada akhirnya kembali melanjutkan pertukaran data
intelijen dengan Ukraina.
Pada Oktober 2025, Financial Times melaporkan Presiden AS
Donald Trump memerintahkan sejumlah lembaga pemerintah untuk bersiap membagikan
informasi intelijen kepada Ukraina. Informasi tersebut disebut dapat membantu
Kyiv melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia.
Juru Bicara Pemerintah Rusia, Dmitry Peskov menekankan
pemanfaatan seluruh infrastruktur NATO dan AS untuk mengumpulkan serta
mengirimkan informasi intelijen kepada Ukraina merupakan hal yang wajar.