Fenomena AI slop tengah menggegerkan media sosial. Istilah
ini digunakan untuk menggambarkan konten digital berkualitas rendah yang
diproduksi secara massal menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial
intelligence/AI), terutama dalam bentuk video pendek.
Konten semacam ini umumnya dibuat dengan tujuan mengejar
jumlah tayangan, likes, hingga pendapatan iklan, bukan untuk menghadirkan informasi
yang akurat maupun hiburan yang berkualitas.
Akibatnya, linimasa media sosial dipenuhi video yang
terlihat menarik sekilas, tetapi minim nilai dan sering kali berisi informasi
yang menyesatkan.
Dikutip dari laporan BBC dan The Washington Post, menyebut
AI slop sebagai sampah digital pada era AI. Julukan tersebut muncul karena
jumlah kontennya terus meningkat dengan sangat cepat, sementara kualitasnya
cenderung rendah dan diproduksi tanpa proses kreatif yang memadai.
Apa Itu AI Slop?
AI slop merupakan istilah yang mengacu pada berbagai jenis
konten digital, mulai dari video, gambar, teks, hingga audio, yang dihasilkan
hampir sepenuhnya oleh AI dengan sedikit atau bahkan tanpa campur tangan
manusia.
Konten semacam ini biasanya diproduksi dalam waktu singkat
dan dalam jumlah besar. Fokus utamanya bukan pada kualitas atau orisinalitas,
melainkan pada seberapa cepat konten tersebut dapat dipublikasikan untuk
menarik perhatian algoritma media sosial.
Karena diproduksi secara massal, banyak konten AI slop
memiliki tema yang serupa, menggunakan narasi yang berulang, hingga
mengandalkan judul sensasional atau clickbait demi meningkatkan jumlah
penonton.
Istilah "slop" berasal dari bahasa Inggris yang
berarti makanan sisa atau bubur encer. Dalam konteks digital, kata tersebut
digunakan untuk menggambarkan banjir konten yang diproduksi secara asal-asalan
dan memenuhi internet.
Popularitas AI slop meningkat seiring semakin mudahnya
masyarakat mengakses berbagai alat pembuat konten berbasis AI. Video semacam
ini kini banyak ditemukan di TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, hingga
Facebook.
Laporan Kapwing Research bertajuk AI Slop Report: The Global
Rise of Low-Quality AI Videos menunjukkan fenomena tersebut semakin mengkhawatirkan.
Penelitian itu menemukan lebih dari 20% video yang direkomendasikan kepada akun
baru di YouTube merupakan konten AI slop.
Pada beberapa kategori, terutama konten anak-anak,
proporsinya bahkan dilaporkan dapat mencapai sekitar 40% dari rekomendasi yang
muncul. Fenomena ini memunculkan sejumlah kekhawatiran.
Banyak kreator menilai banjir konten AI membuat karya
orisinal semakin sulit ditemukan karena tersaingi video yang diproduksi secara
otomatis dalam jumlah besar.
Selain itu, tidak sedikit video AI yang dibuat menyerupai
tayangan nyata atau video edukasi, padahal berisi informasi yang keliru, cerita
yang dibuat-buat, atau visual yang tidak masuk akal.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyebaran
misinformasi, terutama bagi pengguna yang tidak menyadari video tersebut
dihasilkan oleh AI. Konten anak juga menjadi perhatian tersendiri.
Sejumlah video dibuat dengan gaya visual menyerupai animasi
populer sehingga terlihat ramah untuk anak-anak, tetapi justru menampilkan
adegan atau informasi yang aneh dan tidak akurat.
Akibat membanjirnya konten semacam ini, sebagian pengguna
mengaku mulai merasa lelah karena linimasa mereka dipenuhi video generik yang serupa
satu sama lain. Banyak pula yang menjadi lebih sulit membedakan antara video
asli dan video hasil AI.
Melihat perkembangan tersebut, sejumlah platform mulai
mengambil langkah untuk membatasi penyebaran AI slop. YouTube, misalnya,
menjadikan pengurangan konten AI berkualitas rendah serta peningkatan deteksi
deepfake sebagai salah satu prioritas pada 2026.
Ciri-ciri Video AI Slop yang Mudah Dikenali
Meski teknologi AI generatif terus berkembang, masih ada
sejumlah tanda yang dapat membantu pengguna mengenali video AI slop.
1. Ekspresi wajah terlihat tidak alami
Senyum sering tampak terlalu lebar, tatapan mata kosong,
atau perubahan ekspresi terasa kaku dan kurang meyakinkan.
2. Kulit terlihat terlalu sempurna
Wajah biasanya tampak sangat halus tanpa tekstur alami,
menyerupai hasil penyuntingan berlebihan atau efek plastik.
3. Gerakan objek tidak realistis
Orang atau benda dapat bergerak terlalu mulus, berubah
bentuk secara tiba-tiba, atau tampak mengabaikan hukum fisika.
4. Pencahayaan berubah-ubah
Arah cahaya maupun intensitasnya bisa berganti secara tidak
konsisten dalam satu adegan meski posisi kamera tidak berubah.
5. Narasi terdengar seperti robot
Suara pengisi narasi cenderung datar, pengucapannya terlalu
sempurna, atau gerakan bibir tidak sinkron dengan suara yang terdengar.
6. Latar belakang menyimpan banyak kejanggalan
Tulisan sering tidak terbaca, objek berubah bentuk,
menghilang, atau muncul secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
7. Isi video terasa generik dan berulang
Banyak video mengangkat tema yang sama, seperti hewan dengan
bentuk aneh, fakta-fakta yang belum tentu benar, atau skenario dramatis yang
terus diulang dengan sedikit perubahan.
8. Durasi video sangat singkat
Sebagian besar AI slop hanya berdurasi sekitar 6 hingga 15
detik agar mudah diproduksi dan cepat dikonsumsi pengguna.
Meningkatnya jumlah AI slop membuat pengguna media sosial
perlu lebih kritis ketika mengonsumsi konten digital.
Apabila menemukan video yang terlihat terlalu sempurna,
memiliki banyak kejanggalan visual, atau menyampaikan informasi yang meragukan,
sebaiknya lakukan verifikasi melalui sumber lain sebelum memercayainya.
Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur pelaporan apabila
menemukan konten yang mengandung misinformasi atau berpotensi menyesatkan.