Gagal ginjal tidak selalu diawali keluhan yang mudah
dikenali. Penurunan fungsi ginjal dapat berlangsung perlahan, bahkan ketika
tubuh belum menunjukkan gejala yang jelas.
Padahal, ginjal memiliki peran penting dalam menyaring
limbah dan kelebihan cairan dari darah serta menjaga keseimbangan mineral di
dalam tubuh.
Kondisi tersebut membuat perubahan kecil pada tubuh perlu
diperhatikan, terutama jika muncul berulang atau bersamaan dengan keluhan
lainnya.
National Kidney Foundation (NKF) menyebutkan sebagian besar
orang dengan penyakit ginjal tidak menyadari kondisinya karena gejala sering
kali baru muncul ketika penyakit sudah memasuki tahap lanjut.
Ciri Gagal Ginjal yang Perlu Diwaspadai
Penurunan fungsi ginjal dapat memengaruhi berbagai sistem
tubuh. Beberapa perubahan berikut ini dapat menjadi tanda yang perlu
diperhatikan.
1. Mudah lelah dan sulit berkonsentrasi
Ketika fungsi ginjal menurun, kemampuan organ tersebut untuk
membuang racun dan zat sisa dari dalam darah ikut terganggu. Akibatnya, zat
sisa dapat menumpuk dan menyebabkan kondisi yang disebut uremia.
Penumpukan tersebut dapat membuat seseorang merasa lelah,
lemah, atau mengalami kesulitan berkonsentrasi. Penyakit ginjal juga dapat
disertai anemia yang turut menyebabkan tubuh mudah lelah dan terasa lemah.
2. Mengalami gangguan tidur
Kesulitan tidur juga dapat berkaitan dengan penurunan fungsi
ginjal. Ketika ginjal tidak mampu menyaring darah secara optimal, zat sisa
dapat tetap berada di dalam darah dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh.
Kondisi tersebut dapat mengganggu kualitas tidur dan membuat
seseorang lebih sulit beristirahat pada malam hari.
3. Kulit menjadi kering dan terasa gatal
Kulit kering dan gatal dapat muncul pada penyakit ginjal
tahap lanjut. Selain membuang limbah dan kelebihan cairan, ginjal berperan
menjaga keseimbangan mineral serta nutrisi di dalam darah.
Ketika fungsi ginjal terganggu, keseimbangan mineral dan
nutrisi tersebut dapat ikut berubah. Kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan
cairan tubuh sehingga kulit menjadi kering dan lebih mudah terasa gatal.
4. Lebih sering buang air kecil
Perubahan kebiasaan buang air kecil, khususnya meningkatnya
frekuensi buang air kecil pada malam hari, dapat menjadi salah satu tanda
penyakit ginjal.
Kerusakan pada penyaring ginjal dapat meningkatkan dorongan
untuk buang air kecil. Namun, keluhan tersebut tidak selalu berkaitan dengan
penyakit ginjal karena juga dapat menjadi tanda infeksi saluran kemih atau
pembesaran prostat pada laki-laki.
5. Terdapat darah dalam urine
Ginjal yang sehat biasanya mempertahankan sel darah ketika
menyaring limbah dari darah untuk menghasilkan urine. Jika penyaring ginjal
mengalami kerusakan, sel darah dapat ikut keluar dan masuk ke dalam urine.
Kemunculan darah dalam urine dapat berkaitan dengan penyakit
ginjal. Namun, kondisi tersebut juga dapat disebabkan oleh tumor, batu ginjal,
atau infeksi sehingga tetap membutuhkan pemeriksaan untuk mengetahui
penyebabnya.
6. Urine tampak berbusa
Urine yang memiliki banyak gelembung, terutama busa yang
tidak mudah menghilang meskipun sudah beberapa kali disiram, dapat menjadi
tanda adanya protein dalam urine.
Busa tersebut dapat berkaitan dengan albumin. Protein ini
secara normal terdapat di dalam tubuh, tetapi seharusnya tidak keluar melalui
urine dalam jumlah besar.
7. Muncul bengkak di sekitar mata
Pembengkakan yang menetap di area sekitar mata dapat
berkaitan dengan keluarnya protein ke dalam urine. Kerusakan pada penyaring
ginjal dapat menyebabkan protein bocor dan ikut terbuang bersama urine.
Ketika protein keluar dalam jumlah besar, kondisi tersebut
dapat berkontribusi terhadap munculnya pembengkakan, termasuk di sekitar mata.
8. Kaki dan pergelangan kaki membengkak
Penurunan fungsi ginjal dapat membuat tubuh menahan natrium
atau garam. Akibatnya, cairan dapat menumpuk dan menyebabkan kaki serta
pergelangan kaki membengkak.
Namun, pembengkakan pada bagian bawah tubuh tidak selalu
menunjukkan gangguan ginjal. Keluhan serupa juga dapat berkaitan dengan
penyakit jantung, penyakit hati, atau masalah pembuluh darah vena kronis pada
kaki.
9. Nafsu makan menurun
Berkurangnya nafsu makan merupakan keluhan yang cukup umum
dan dapat terjadi ketika fungsi ginjal menurun. Salah satu penyebabnya adalah
penumpukan zat sisa di dalam darah.
Nephrology Associates of Northern Illinois and Indiana
menyebut penumpukan zat sisa tersebut dapat menimbulkan mual, muntah, dan
kehilangan nafsu makan.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat
menyebabkan penurunan berat badan yang tidak disengaja serta kekurangan
nutrisi.
10. Mengalami keram otot
Gangguan fungsi ginjal dapat mengganggu keseimbangan
elektrolit dan mineral di dalam tubuh. Salah satu contohnya terjadi ketika
kadar kalsium rendah dan kadar fosfor tidak terkendali. Ketidakseimbangan
tersebut dapat memicu keram atau kejang pada otot.
Perubahan Urine Juga Perlu Diperhatikan
Selain berbagai keluhan pada tubuh, perubahan urine dapat
memberikan petunjuk mengenai kemungkinan adanya gangguan fungsi ginjal.
Beberapa perubahan yang perlu diperhatikan meliputi
meningkatnya frekuensi buang air kecil pada malam hari, urine yang sangat gelap
atau berbusa, serta penurunan jumlah urine secara tiba-tiba.
Perubahan tersebut dapat menunjukkan ginjal mengalami
kesulitan dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Meski demikian, kemunculan satu gejala tidak secara otomatis
berarti seseorang mengalami penyakit ginjal. Keluhan yang sama dapat muncul
akibat kondisi kesehatan lainnya. Oleh karena itu, gejala yang dirasakan perlu
dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis.
Pemeriksaan untuk Mengetahui Fungsi Ginjal
Gejala dapat menjadi tanda awal, tetapi pemeriksaan medis
diperlukan untuk mengetahui kondisi fungsi ginjal secara lebih akurat.
NKF menyebut dua pemeriksaan yang dapat digunakan untuk
mendeteksi penyakit ginjal, yaitu estimated glomerular filtration rate (eGFR)
dan urine albumin-creatinine ratio (uACR).
eGFR merupakan pemeriksaan darah yang digunakan untuk
memperkirakan kemampuan ginjal dalam menyaring darah. Sementara itu, uACR
merupakan pemeriksaan urine untuk mengukur kadar albumin dan kreatinin.
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan, meliputi kreatinin
serum, blood urea nitrogen (BUN), elektrolit, analisis urine, serta rasio
albumin-kreatinin.
Jika diperlukan, dokter juga dapat menggunakan pemeriksaan
pencitraan seperti ultrasonografi atau CT scan. Pemeriksaan tersebut dapat
membantu melihat ukuran ginjal, kelainan struktur, maupun kemungkinan adanya
penyumbatan.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Penurunan Fungsi Ginjal
Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko terjadinya
gangguan fungsi ginjal. NKF menyebut tekanan darah tinggi, diabetes, riwayat
keluarga dengan gagal ginjal, serta usia lebih dari 60 tahun sebagai faktor
risiko yang perlu diperhatikan.
Nephrology Associates of Northern Illinois and Indiana juga
mencantumkan obesitas, penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang, seperti
NSAID, kebiasaan merokok, diabetes, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga, dan
usia sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi ginjal.
Bagi orang yang memiliki faktor risiko tersebut, pemeriksaan
rutin penting dilakukan untuk memantau kondisi ginjal. Deteksi lebih awal dapat
membantu menemukan gangguan fungsi ginjal sebelum berkembang menjadi kondisi
yang lebih berat.