Harga emas turun lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (26/8/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) meningkatkan perhatian investor terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga -->

Harga emas turun lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (26/8/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) meningkatkan perhatian investor terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga

Kamis, 27 Agustus 2026

 Harga emas turun lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (26/8/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) meningkatkan perhatian investor terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.



Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,3% menjadi US$ 4.594,84 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS terkoreksi 0,9% menjadi US$ 4.650,90 per ons troi.


Penurunan terjadi setelah indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE), yang menjadi salah satu indikator inflasi utama bagi The Fed, tercatat naik 3,7% dalam 12 bulan hingga Juli. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 3,6%.


Data tersebut membuat pasar meningkatkan perkiraan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga kini berada di 38%, naik dari 36% sebelum data inflasi dirilis. Sementara peluang The Fed mempertahankan suku bunga berada di 62%.


Kenaikan ekspektasi suku bunga menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga. Ketika suku bunga tinggi diperkirakan bertahan lebih lama, sebagian investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang memberikan imbal hasil.


Selain itu, dolar AS menguat 0,3%. Penguatan dolar turut menekan emas karena harga emas yang menggunakan denominasi dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.


Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals Peter Grant mengatakan, pergerakan emas saat ini juga dipengaruhi aksi ambil untung setelah harga sempat menyentuh level tertinggi sejak 14 Mei pada Selasa (25/8/2026).


"Pergerakan harga emas hingga data hari ini hanyalah aksi ambil untung. Data PCE sebagian besar sesuai dengan ekspektasi, jadi saat ini kita sedang berkonsolidasi dalam kisaran harga kemarin," kata Grant.


Meski terkoreksi, Grant masih melihat prospek kenaikan emas dalam jangka lebih panjang.


"Saya pikir tren kenaikan harga emas mulai menguat kembali. Jadi saya melihat potensi kembali di atas US$ 5.000 tahun ini," kata Grant.


Ia juga memperkirakan emas berpeluang mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa pada kuartal II 2027.