Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran harus menjadi
pelajaran berharga dalam menjaga harga pangan di Indonesia melalui kenaikan
harga energi dan biaya logistik global. Kondisi tersebut dinilai dapat
meningkatkan biaya distribusi pangan hingga akhirnya membebani konsumen.
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan,
mengatakan gangguan keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat
Hormuz, memengaruhi pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi.
Menurutnya, dampak konflik terhadap harga beras dari Amerika
Serikat memang tidak terjadi secara langsung karena jalur pengirimannya tidak
melewati Selat Hormuz. Namun, kenaikan harga minyak dunia tetap dapat
meningkatkan berbagai komponen biaya dalam rantai pangan.
“Dampak bergerak seperti efek domino. Ketika harga minyak
dan ongkos logistik naik, harga pangan impor ikut tertekan. Jika pada saat yang
sama rupiah melemah terhadap dolar AS, beban impor Indonesia akan semakin
mahal,” kata Johan dilansir dari Antara, Kamis (20/8/2026).
Johan menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia dapat
berdampak terhadap biaya bahan bakar, pengangkutan, premi asuransi kapal,
pupuk, hingga biaya produksi dan distribusi pangan.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diwaspadai pemerintah
karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap sejumlah komoditas
pangan impor.
Selain beras, Johan meminta pemerintah mengantisipasi
potensi kenaikan harga komoditas pangan impor lainnya, seperti gandum, kedelai,
gula, daging, serta bahan baku pakan ternak.
Kenaikan harga komoditas tersebut, kata Johan, berpotensi
diteruskan kepada konsumen dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi pangan di
dalam negeri.
Karena itu, Johan mendesak pemerintah menyiapkan skenario
mitigasi yang terukur untuk menghadapi dampak konflik tersebut. Langkah yang
diperlukan antara lain pengamanan stok BBM, penguatan cadangan pangan,
stabilitas nilai tukar, pengendalian ongkos distribusi, serta perlindungan bagi
petani, nelayan, pelaku UMKM, dan masyarakat berpendapatan rendah.
“Konflik ini harus menjadi peringatan bahwa ketergantungan
terhadap pangan dan energi impor merupakan kerentanan strategis. Ketahanan
pangan dan energi bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari
pertahanan negara,” tegasnya