Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran harus menjadi pelajaran berharga dalam menjaga harga pangan di Indonesia melalui kenaikan harga energi dan biaya logistik global. -->

Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran harus menjadi pelajaran berharga dalam menjaga harga pangan di Indonesia melalui kenaikan harga energi dan biaya logistik global.

Jumat, 21 Agustus 2026

 

Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran harus menjadi pelajaran berharga dalam menjaga harga pangan di Indonesia melalui kenaikan harga energi dan biaya logistik global. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan biaya distribusi pangan hingga akhirnya membebani konsumen.

 


Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan, mengatakan gangguan keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, memengaruhi pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi.

 

Menurutnya, dampak konflik terhadap harga beras dari Amerika Serikat memang tidak terjadi secara langsung karena jalur pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz. Namun, kenaikan harga minyak dunia tetap dapat meningkatkan berbagai komponen biaya dalam rantai pangan.

 

“Dampak bergerak seperti efek domino. Ketika harga minyak dan ongkos logistik naik, harga pangan impor ikut tertekan. Jika pada saat yang sama rupiah melemah terhadap dolar AS, beban impor Indonesia akan semakin mahal,” kata Johan dilansir dari Antara, Kamis (20/8/2026).

 

Johan menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia dapat berdampak terhadap biaya bahan bakar, pengangkutan, premi asuransi kapal, pupuk, hingga biaya produksi dan distribusi pangan.

 

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diwaspadai pemerintah karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap sejumlah komoditas pangan impor.

 

Selain beras, Johan meminta pemerintah mengantisipasi potensi kenaikan harga komoditas pangan impor lainnya, seperti gandum, kedelai, gula, daging, serta bahan baku pakan ternak.

 

Kenaikan harga komoditas tersebut, kata Johan, berpotensi diteruskan kepada konsumen dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi pangan di dalam negeri.

 

Karena itu, Johan mendesak pemerintah menyiapkan skenario mitigasi yang terukur untuk menghadapi dampak konflik tersebut. Langkah yang diperlukan antara lain pengamanan stok BBM, penguatan cadangan pangan, stabilitas nilai tukar, pengendalian ongkos distribusi, serta perlindungan bagi petani, nelayan, pelaku UMKM, dan masyarakat berpendapatan rendah.

 

“Konflik ini harus menjadi peringatan bahwa ketergantungan terhadap pangan dan energi impor merupakan kerentanan strategis. Ketahanan pangan dan energi bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari pertahanan negara,” tegasnya