Lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali mendekati level
terendah dalam tiga bulan terakhir seiring belum tercapainya kesepakatan antara
Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka penuh jalur pelayaran strategis
tersebut.
Berdasarkan data Kpler, rata-rata kapal yang melintasi Selat
Hormuz dalam lima hari hingga Selasa(11/8/2026) hanya sekitar 13 kapal per
hari. Angka tersebut hampir menyamai level terendah sejak 12 Mei 2026.
Jumlah tersebut sekitar 90% lebih rendah dibandingkan
rata-rata 130 kapal per hari sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28
Februari 2026.
Namun Menteri Energi AS Chris Wright menyebut ekspor minyak
melalui Selat Hormuz masih mencapai rata-rata hampir 9 juta barel per hari
dalam tujuh hari terakhir.
Menurut Wright, sejumlah kapal tanker masih dapat melintasi
selat dengan bantuan militer AS. Ia juga menilai data perusahaan swasta
kemungkinan tidak sepenuhnya menangkap jumlah kapal yang bergerak melalui jalur
tersebut.
“Banyak perusahaan swasta yang meremehkan jumlah kapal yang
meninggalkan Selat Hormuz karena adanya kapal yang bergerak secara diam-diam
melalui jalur air tersebut,” kata Wright dalam unggahan di media sosial.
Ketidakpastian semakin meningkat setelah pejabat keamanan
nasional Iran Mohsen Rezaei menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka
sepenuhnya sebelum AS memenuhi tuntutan Teheran.
Sebelumnya, AS dan Iran sempat mencapai kesepakatan
sementara pada 17 Juni untuk membuka jalur tersebut. Setelah kesepakatan itu,
lalu lintas kapal meningkat hingga sekitar 60 kapal per hari pada 26 Juni.
Namun, kesepakatan tersebut kemudian runtuh setelah kedua
pihak berselisih mengenai rute pelayaran yang tidak dijelaskan secara rinci
dalam kesepakatan.
Kondisi ini membuat aktivitas pelayaran kembali merosot.
Lalu lintas kapal pada Selasa bahkan sekitar 80% lebih rendah dibandingkan
level tertingginya setelah kesepakatan sementara tersebut.
Sementara itu, pemerintahan Presiden Donald Trump kembali
mengupayakan jalur diplomasi untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun,
hingga kini belum ada kepastian mengenai kapan Selat Hormuz dapat kembali
dibuka secara penuh.