Material tersebut diduga jatuh hampir 1,2 kilometer secara vertikal sebelum mencapai dasar lembah. Temuan itu memberikan gambaran mengenai besarnya material -->

Material tersebut diduga jatuh hampir 1,2 kilometer secara vertikal sebelum mencapai dasar lembah. Temuan itu memberikan gambaran mengenai besarnya material

Jumat, 28 Agustus 2026

 


Material tersebut diduga jatuh hampir 1,2 kilometer secara vertikal sebelum mencapai dasar lembah. Temuan itu memberikan gambaran mengenai besarnya material yang bergerak dari kawasan pegunungan sebelum akhirnya berkontribusi terhadap aliran banjir.

 

Geofisikawan dari Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia, Göran Ekström, juga menilai longsoran besar kemungkinan membawa sebagian gletser menuju lembah.

 

Energi yang dilepaskan dari pergerakan material dalam skala besar tersebut begitu kuat hingga menghasilkan getaran yang dapat direkam oleh sejumlah alat pemantau seismik.

 

Meski demikian, mekanisme lengkap yang menghubungkan runtuhnya material gletser dengan banjir masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

 

 Musim panas di kawasan Himalaya masih dipengaruhi hujan monsun. Kondisi tersebut tetap menjadi bagian dari lingkungan yang dapat memengaruhi debit sungai dan kestabilan material di kawasan pegunungan.

 

Namun, data awal tidak menunjukkan adanya hujan ekstrem di sekitar lokasi bencana dalam beberapa hari sebelum kejadian. Oleh karena itu, hujan deras tidak dianggap sebagai pemicu utama banjir kali ini.

 

Meski demikian, hujan musiman dan pencairan salju tetap dapat meningkatkan debit sungai serta membuat material di lereng dan lembah menjadi lebih jenuh air.

 

Dalam kondisi topografi yang sangat curam, material tambahan dari longsoran gletser dapat bergerak dengan kecepatan tinggi.

 

Lumpur, batu, es, dan air kemudian dapat bergabung menjadi satu aliran besar yang memiliki daya rusak tinggi.

 

Jumlah korban masih mengalami perubahan karena proses pencarian dan pendataan terus berlangsung.

 

Kepolisian Nepal melaporkan sedikitnya 162 orang meninggal dunia, sementara jumlah orang yang belum ditemukan masih diperbarui seiring berlangsungnya operasi pencarian.

 

Nepal Tourism Board sebelumnya mencatat 384 wisatawan dan pelancong belum diketahui keberadaannya. Dari jumlah tersebut 291 orang merupakan warga negara asing, dan 93 orang merupakan warga Nepal.

 

Data tersebut masih bersifat awal dan sedang diverifikasi bersama perusahaan perjalanan, pemandu, pemerintah daerah, serta aparat keamanan.

 

Sementara itu, di sisi Tibet, China melaporkan 558 orang masih hilang, termasuk 260 warga negara asing.

 

Perbedaan metode pendataan dan proses verifikasi di kedua wilayah membuat belum dapat dipastikan apakah terdapat tumpang tindih antara data korban yang dilaporkan Nepal dan China.

 

Dampak banjir bandang tidak hanya terlihat dari jumlah korban. Aliran material dalam jumlah besar juga menghantam berbagai fasilitas yang menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat di kawasan perbatasan.

 

Pemukiman terdampak oleh aliran air, lumpur, batu, dan material longsoran. Jalan serta jembatan juga mengalami kerusakan, sehingga akses menuju sejumlah wilayah menjadi terganggu.

 

Fasilitas pembangkit listrik turut terkena dampak bencana. Kerusakan berbagai infrastruktur tersebut menambah tantangan bagi proses pencarian, evakuasi, dan penanganan korban.

 

Wilayah Timure, Rasuwagadhi, dan Syafrubesi menjadi beberapa kawasan di Nepal yang mengalami kerusakan parah. Di sisi China, kawasan dekat perlintasan Gyirong di Tibet juga diterjang longsoran lumpur.

 

Kondisi Geografis Membuat Nepal Rentan Bencana

Nepal berada di kawasan Himalaya dengan kondisi geografis yang kompleks. Sebagian besar wilayahnya memiliki pegunungan dengan lereng curam, lembah sempit, sungai berarus deras, serta sistem gletser yang saling berkaitan.

 

Kondisi tersebut membuat Nepal memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi. Perubahan iklim juga menjadi perhatian para ilmuwan.

 

Peningkatan suhu dapat mempercepat pencairan gletser dan memengaruhi kestabilan lereng di kawasan pegunungan.

 

Pencairan es dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya danau glasial sekaligus memengaruhi kestabilan struktur es dan batuan di wilayah Himalaya.

 

Namun, untuk bencana pada Rabu (26/8/2026), bukti awal lebih mengarah pada keruntuhan material gletser dan longsoran yang kemudian menghasilkan aliran banjir besar.

 

USGS juga telah menyatakan getaran yang semula dianggap sebagai gempa justru berkaitan dengan peristiwa longsoran tersebut.

 

Para ilmuwan juga belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan adanya beberapa faktor yang bekerja secara bersamaan.

 

Dugaan Luapan Danau Glasial Belum Terbukti

 

Selain longsoran gletser, para ilmuwan juga memeriksa kemungkinan terjadinya glacial lake outburst flood (GLOF).

 

GLOF merupakan banjir yang terjadi ketika danau yang terbentuk dari pencairan gletser meluap secara tiba-tiba dan melepaskan air dalam jumlah sangat besar.

 

Nepal memiliki risiko GLOF yang tinggi karena banyak gletser dan danau glasial berada di wilayah pegunungan.

 

Namun, sejumlah analisis awal belum menemukan bukti kuat bahwa luapan danau glasial menjadi pemicu utama bencana pada Rabu (26/8/2026).

 

Citra satelit yang dianalisis para ilmuwan juga tidak memperlihatkan keberadaan danau besar di bagian hulu yang dapat menjelaskan volume air yang tiba-tiba mengalir menuju lembah.

 

Oleh karena itu, berdasarkan bukti awal yang tersedia, longsoran es dan batu dinilai lebih sesuai dengan rangkaian kejadian yang terjadi.