Material tersebut diduga jatuh hampir 1,2 kilometer secara
vertikal sebelum mencapai dasar lembah. Temuan itu memberikan gambaran mengenai
besarnya material yang bergerak dari kawasan pegunungan sebelum akhirnya
berkontribusi terhadap aliran banjir.
Geofisikawan dari Lamont-Doherty Earth Observatory
Universitas Columbia, Göran Ekström, juga menilai longsoran besar kemungkinan
membawa sebagian gletser menuju lembah.
Energi yang dilepaskan dari pergerakan material dalam skala
besar tersebut begitu kuat hingga menghasilkan getaran yang dapat direkam oleh
sejumlah alat pemantau seismik.
Meski demikian, mekanisme lengkap yang menghubungkan
runtuhnya material gletser dengan banjir masih membutuhkan penelitian lebih
lanjut.
Musim panas di
kawasan Himalaya masih dipengaruhi hujan monsun. Kondisi tersebut tetap menjadi
bagian dari lingkungan yang dapat memengaruhi debit sungai dan kestabilan
material di kawasan pegunungan.
Namun, data awal tidak menunjukkan adanya hujan ekstrem di
sekitar lokasi bencana dalam beberapa hari sebelum kejadian. Oleh karena itu,
hujan deras tidak dianggap sebagai pemicu utama banjir kali ini.
Meski demikian, hujan musiman dan pencairan salju tetap
dapat meningkatkan debit sungai serta membuat material di lereng dan lembah
menjadi lebih jenuh air.
Dalam kondisi topografi yang sangat curam, material tambahan
dari longsoran gletser dapat bergerak dengan kecepatan tinggi.
Lumpur, batu, es, dan air kemudian dapat bergabung menjadi
satu aliran besar yang memiliki daya rusak tinggi.
Jumlah korban masih mengalami perubahan karena proses
pencarian dan pendataan terus berlangsung.
Kepolisian Nepal melaporkan sedikitnya 162 orang meninggal
dunia, sementara jumlah orang yang belum ditemukan masih diperbarui seiring
berlangsungnya operasi pencarian.
Nepal Tourism Board sebelumnya mencatat 384 wisatawan dan
pelancong belum diketahui keberadaannya. Dari jumlah tersebut 291 orang
merupakan warga negara asing, dan 93 orang merupakan warga Nepal.
Data tersebut masih bersifat awal dan sedang diverifikasi
bersama perusahaan perjalanan, pemandu, pemerintah daerah, serta aparat
keamanan.
Sementara itu, di sisi Tibet, China melaporkan 558 orang
masih hilang, termasuk 260 warga negara asing.
Perbedaan metode pendataan dan proses verifikasi di kedua
wilayah membuat belum dapat dipastikan apakah terdapat tumpang tindih antara
data korban yang dilaporkan Nepal dan China.
Dampak banjir bandang tidak hanya terlihat dari jumlah
korban. Aliran material dalam jumlah besar juga menghantam berbagai fasilitas
yang menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat di kawasan perbatasan.
Pemukiman terdampak oleh aliran air, lumpur, batu, dan
material longsoran. Jalan serta jembatan juga mengalami kerusakan, sehingga
akses menuju sejumlah wilayah menjadi terganggu.
Fasilitas pembangkit listrik turut terkena dampak bencana.
Kerusakan berbagai infrastruktur tersebut menambah tantangan bagi proses
pencarian, evakuasi, dan penanganan korban.
Wilayah Timure, Rasuwagadhi, dan Syafrubesi menjadi beberapa
kawasan di Nepal yang mengalami kerusakan parah. Di sisi China, kawasan dekat
perlintasan Gyirong di Tibet juga diterjang longsoran lumpur.
Kondisi Geografis Membuat Nepal Rentan Bencana
Nepal berada di kawasan Himalaya dengan kondisi geografis
yang kompleks. Sebagian besar wilayahnya memiliki pegunungan dengan lereng
curam, lembah sempit, sungai berarus deras, serta sistem gletser yang saling
berkaitan.
Kondisi tersebut membuat Nepal memiliki kerentanan tinggi
terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi. Perubahan iklim juga
menjadi perhatian para ilmuwan.
Peningkatan suhu dapat mempercepat pencairan gletser dan
memengaruhi kestabilan lereng di kawasan pegunungan.
Pencairan es dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya
danau glasial sekaligus memengaruhi kestabilan struktur es dan batuan di
wilayah Himalaya.
Namun, untuk bencana pada Rabu (26/8/2026), bukti awal lebih
mengarah pada keruntuhan material gletser dan longsoran yang kemudian
menghasilkan aliran banjir besar.
USGS juga telah menyatakan getaran yang semula dianggap
sebagai gempa justru berkaitan dengan peristiwa longsoran tersebut.
Para ilmuwan juga belum sepenuhnya mengesampingkan
kemungkinan adanya beberapa faktor yang bekerja secara bersamaan.
Dugaan Luapan Danau Glasial Belum Terbukti
Selain longsoran gletser, para ilmuwan juga memeriksa
kemungkinan terjadinya glacial lake outburst flood (GLOF).
GLOF merupakan banjir yang terjadi ketika danau yang
terbentuk dari pencairan gletser meluap secara tiba-tiba dan melepaskan air
dalam jumlah sangat besar.
Nepal memiliki risiko GLOF yang tinggi karena banyak gletser
dan danau glasial berada di wilayah pegunungan.
Namun, sejumlah analisis awal belum menemukan bukti kuat
bahwa luapan danau glasial menjadi pemicu utama bencana pada Rabu (26/8/2026).
Citra satelit yang dianalisis para ilmuwan juga tidak
memperlihatkan keberadaan danau besar di bagian hulu yang dapat menjelaskan
volume air yang tiba-tiba mengalir menuju lembah.
Oleh karena itu, berdasarkan bukti awal yang tersedia,
longsoran es dan batu dinilai lebih sesuai dengan rangkaian kejadian yang
terjadi.