Operasi militer intensif selama hampir enam bulan dalam
konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dilaporkan
telah memicu kerusakan serius pada armada kapal induk Angkatan Laut Amerika
Serikat. Tekanan tugas yang tinggi menyebabkan berbagai komponen vital di atas
dua kapal induk senilai US$ 22 miliar atau setara Rp 350 triliun tersebut
berisiko mengalami keausan parah.
Diketahui hingga saat ini Amerika Serikat telah mengirim dua
kapal induk untuk bersiaga selama perang melawan Iran berlangsung yakni USS
Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford. Kedua kapal induk itu menurut MS Now,
Sabtu (22/8/2026) belum bersandar sekali pun.
Kondisi ini justru membuat kedua kapal induk tersebut
mengalami kerusakan. Masalah mekanis yang membayangi kapal berbobot raksasa ini
mencakup kerusakan pada sistem pemipaan (plumbing), pendingin udara (AC),
ketapel peluncur jet tempur (catapult), hingga kabel penahan pendaratan pesawat
di landasan terapung.
“Kondisi ini memicu kekhawatiran dari sejumlah purnawirawan
perwira tinggi militer AS,” tulis MS Now.
Para mantan pimpinan Angkatan Laut menyuarakan kecemasan
mereka atas kelelahan operasional yang dialami kapal induk dan armada jet
tempur bernilai mahal tersebut. Masa penugasan tanpa henti ini dipastikan bakal
menuntut waktu perbaikan dan pemeliharaan (maintenance) ekstra panjang saat
kapal kembali ke pangkalan.
Pensiunan Kapten Angkatan Laut AS sekaligus peneliti senior
dari Heritage Foundation, Brent Sadler, mengkritik ritme operasi tempur di laut
yang terlampau dipaksakan. Penugasan yang melebihi batas dinilai hanya akan
melumpuhkan kesiapan armada dalam jangka panjang.
"Kita telah memacu kapal-kapal kita secara berlebihan.
Semakin lama Anda memaksanya bekerja keras di laut, semakin banyak waktu yang
dibutuhkan Angkatan Laut untuk pemeliharaan saat kapal tersebut tidak siap
ditugaskan," tegas Sadler.
Tantangan berat ini kini dihadapi langsung oleh kapal induk
USS Abraham Lincoln yang sedang dipersiapkan untuk kembali ke markasnya di San
Diego. Kapal tersebut mencatatkan rekor era modern dengan berlayar secara
terus-menerus selama 208 hari tanpa pernah bersandar di pelabuhan akibat harus
meluncurkan lebih dari 10.000 misi penerbangan.
Laporan dari para keluarga prajurit mengungkapkan bahwa
kondisi di dalam kapal kian memprihatinkan. Selain kabel penahan pendaratan
pesawat yang aus, mereka melaporkan adanya gangguan fasilitas dasar bagi para
kru, seperti fasilitas toilet yang rusak dalam waktu lama, matinya sistem AC,
hingga krisis pasokan air panas.
Menanggapi laporan tersebut, Juru Bicaranya Armada Ke-5
Angkatan Laut AS, Komander Joseph Hontz, mengklaim bahwa kapal tersebut masih
beroperasi secara penuh. Kendati mengakui masa penugasan ini sangat menantang
bagi kru dan peralatan, ia memastikan bahwa tim teknisi di atas kapal selalu
siap melakukan perbaikan darurat jika diperlukan.