Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang kini telah memasuki bulan keenam dinilai oleh banyak negara sekutu AS menuju kekalahan strategis. -->

Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang kini telah memasuki bulan keenam dinilai oleh banyak negara sekutu AS menuju kekalahan strategis.

Minggu, 02 Agustus 2026

 


Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang kini telah memasuki bulan keenam dinilai oleh banyak negara sekutu AS menuju kekalahan strategis. Ketidakmampuan Washington untuk mengubah keunggulan militernya menjadi perubahan politik yang stabil di Iran dinilai justru memperlihatkan kelemahan AS di mata dunia, yang berpotensi dimanfaatkan oleh rival utamanya seperti Rusia dan China.

 

Hingga saat ini, target utama dari Presiden Donald Trump belum ada yang tercapai secara penuh. Pemerintah Iran justru terlihat semakin solid di bawah rezim yang lebih radikal. Meskipun program nuklir dan rudal balistiknya sempat mengalami kerusakan akibat gempuran AS, fasilitas tersebut belum sepenuhnya hancur, dan Iran kini secara efektif memegang kendali atas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

 

Dampak dari perang ini juga membuat posisi Amerika Serikat dan sekutu terdekatnya, Israel, semakin terdesak hingga saling melempar kesalahan. Serangan rudal dan drone Iran tidak hanya melumpuhkan arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, tetapi juga merusak infrastruktur energi kawasan serta mengancam basis-basis militer AS di Timur Tengah hingga memakan korban jiwa dari pihak tentara Amerika.

 “Para analis menilai bahwa ketidakpastian arah kebijakan dari Washington membuat AS kehilangan kredibilitasnya, baik di bidang militer maupun diplomasi. Perilaku militer dan diplomasi AS yang sering berubah-ubah memperkuat kesan global bahwa Amerika Serikat kini justru menjadi sumber ketidakstabilan baru di tingkat dunia,” tulis New York Times, Sabtu (1/8/2026).

 

Mantan Direktur lembaga pemikir Chatham House di London, Robin Niblett, menyebut konflik ini sebagai sebuah kekalahan strategis yang memalukan bagi AS. Ia menekankan bahwa bagi para negara sekutu yang selama ini menggantungkan keamanannya pada Washington, peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa Amerika Serikat tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan sebagai pelindung.

 

Krisis kepercayaan ini makin diperparah oleh menipisnya cadangan amunisi vital militer AS, seperti sistem pertahanan udara rudal Patriot. Hal ini memberikan sinyal berbahaya bagi sekutu-sekutu AS di Eropa dan Asia bahwa kapasitas militer Amerika Serikat akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih jika harus menghadapi perang berdurasi panjang di tempat lain.

 

Pada sisi lain, negosiasi mengenai Selat Hormuz kini menjadi kunci utama perekonomian dunia. Iran berupaya memanfaatkan kontrol atas jalur pasokan minyak dunia tersebut untuk menekan AS agar menarik aset militernya. Namun, para pemimpin di Teheran dilaporkan sangat skeptis terhadap diplomasi dengan pemerintahan Trump, karena menganggap kesepakatan apa pun yang dibuat berpotensi dibatalkan secara sepihak di kemudian hari.

 

Dengan situasi yang kian buntu, Amerika Serikat dinilai telah memulai sebuah peperangan yang tidak tahu bagaimana cara memenangkan maupun mengakhirinya. Kebanyakan pengamat memperkirakan kawasan tersebut akan terjebak dalam siklus gencatan senjata sementara dan eskalasi balasan yang berulang, menciptakan sebuah perang tanpa akhir (forever war) bentuk baru yang merugikan stabilitas ekonomi global.