Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang kini telah
memasuki bulan keenam dinilai oleh banyak negara sekutu AS menuju kekalahan
strategis. Ketidakmampuan Washington untuk mengubah keunggulan militernya
menjadi perubahan politik yang stabil di Iran dinilai justru memperlihatkan
kelemahan AS di mata dunia, yang berpotensi dimanfaatkan oleh rival utamanya
seperti Rusia dan China.
Hingga saat ini, target utama dari Presiden Donald Trump
belum ada yang tercapai secara penuh. Pemerintah Iran justru terlihat semakin
solid di bawah rezim yang lebih radikal. Meskipun program nuklir dan rudal
balistiknya sempat mengalami kerusakan akibat gempuran AS, fasilitas tersebut
belum sepenuhnya hancur, dan Iran kini secara efektif memegang kendali atas
jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Dampak dari perang ini juga membuat posisi Amerika Serikat
dan sekutu terdekatnya, Israel, semakin terdesak hingga saling melempar
kesalahan. Serangan rudal dan drone Iran tidak hanya melumpuhkan arus lalu
lintas kapal tanker di Selat Hormuz, tetapi juga merusak infrastruktur energi
kawasan serta mengancam basis-basis militer AS di Timur Tengah hingga memakan
korban jiwa dari pihak tentara Amerika.
“Para analis menilai
bahwa ketidakpastian arah kebijakan dari Washington membuat AS kehilangan
kredibilitasnya, baik di bidang militer maupun diplomasi. Perilaku militer dan
diplomasi AS yang sering berubah-ubah memperkuat kesan global bahwa Amerika
Serikat kini justru menjadi sumber ketidakstabilan baru di tingkat dunia,”
tulis New York Times, Sabtu (1/8/2026).
Mantan Direktur lembaga pemikir Chatham House di London,
Robin Niblett, menyebut konflik ini sebagai sebuah kekalahan strategis yang
memalukan bagi AS. Ia menekankan bahwa bagi para negara sekutu yang selama ini
menggantungkan keamanannya pada Washington, peristiwa ini menjadi bukti nyata
bahwa Amerika Serikat tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan sebagai pelindung.
Krisis kepercayaan ini makin diperparah oleh menipisnya
cadangan amunisi vital militer AS, seperti sistem pertahanan udara rudal
Patriot. Hal ini memberikan sinyal berbahaya bagi sekutu-sekutu AS di Eropa dan
Asia bahwa kapasitas militer Amerika Serikat akan membutuhkan waktu bertahun-tahun
untuk pulih jika harus menghadapi perang berdurasi panjang di tempat lain.
Pada sisi lain, negosiasi mengenai Selat Hormuz kini menjadi
kunci utama perekonomian dunia. Iran berupaya memanfaatkan kontrol atas jalur
pasokan minyak dunia tersebut untuk menekan AS agar menarik aset militernya.
Namun, para pemimpin di Teheran dilaporkan sangat skeptis terhadap diplomasi
dengan pemerintahan Trump, karena menganggap kesepakatan apa pun yang dibuat
berpotensi dibatalkan secara sepihak di kemudian hari.
Dengan situasi yang kian buntu, Amerika Serikat dinilai
telah memulai sebuah peperangan yang tidak tahu bagaimana cara memenangkan
maupun mengakhirinya. Kebanyakan pengamat memperkirakan kawasan tersebut akan
terjebak dalam siklus gencatan senjata sementara dan eskalasi balasan yang
berulang, menciptakan sebuah perang tanpa akhir (forever war) bentuk baru yang
merugikan stabilitas ekonomi global.