Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung menegaskan komitmennya untuk mengembalikan kendali operasional perang atau wartime operational control (OPCON) pasukan Korsel dari Amerika Serikat (AS) -->

Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung menegaskan komitmennya untuk mengembalikan kendali operasional perang atau wartime operational control (OPCON) pasukan Korsel dari Amerika Serikat (AS)

Rabu, 19 Agustus 2026

 


Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung menegaskan komitmennya untuk mengembalikan kendali operasional perang atau wartime operational control (OPCON) pasukan Korsel dari Amerika Serikat (AS) sebelum masa jabatannya berakhir pada 2030.

 

Lee menyampaikan target tersebut dalam rapat kabinet pada Selasa (18/8/2026). Dia mengatakan pengalihan kendali operasional perang harus diselesaikan selama masa kepemimpinannya sesuai dengan rencana pemerintah sebelumnya, dilansir Yonhap News Agency.

 

Selain itu, Lee memerintahkan pejabat pemerintah mempercepat rencana pengadaan kapal selam bertenaga nuklir. Menurut dia, upaya Korsel memperkuat kemampuan militernya sendiri harus berjalan seiring dengan aliansi pertahanan dengan AS, bukan justru melemahkannya.

 

“Ketika aliansi kuat, fondasi keamanan akan menjadi lebih kokoh,” kata Lee, dilansir Reuters.

 

Dia menambahkan, posisi Korsel sebagai sekutu AS akan semakin penting apabila negara tersebut terus meningkatkan kemampuan pertahanannya sendiri.

 

Korsel menyerahkan kendali operasional perang kepada Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin AS selama Perang Korea pada 1950-1953.

 

Selanjutnya, kendali tersebut berada di bawah Komando Pasukan Gabungan Korsel dan AS pada 1978. Seoul kemudian mendapatkan kembali kendali operasional pada masa damai pada 1994. Namun, kendali operasional perang hingga kini masih berada di bawah komando AS.

 

Lee mengatakan pengalihan kendali operasional perang menjadi semakin penting karena karakter peperangan terus berubah menuju bentuk yang lebih kompleks, termasuk peperangan hibrida.

 

Pada saat yang sama, lingkungan keamanan global juga mengalami perubahan dengan cepat. Karena itu, dia menilai Korsel perlu memiliki kemampuan pertahanan yang semakin mandiri.

 

Lee juga meminta rencana penggabungan tiga akademi militer Korsel menjadi satu institusi tetap dilanjutkan tanpa perubahan arah.

 

Pernyataan Lee disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah memerintahkan Pentagon untuk mengurangi secara signifikan latihan militer bersama dengan Korsel. Keputusan Trump tersebut muncul di tengah upaya untuk mendorong dialog dengan Korea Utara.

 

Sementara itu, Korsel dan AS mulai menggelar latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield pada Senin (17/8/2026). Latihan tersebut melibatkan pasukan kedua negara untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman keamanan.

 

Dalam kondisi tersebut, Lee menekankan bahwa penguatan kemampuan pertahanan Korsel dan aliansi dengan AS seharusnya saling memperkuat.

 

Dengan demikian, peningkatan kemandirian pertahanan Seoul tidak dimaksudkan untuk mengurangi peran AS. Sebaliknya, Lee melihat kemampuan militer Korsel yang semakin kuat sebagai bagian dari upaya memperkokoh aliansi kedua negara.