PT MRT menginvestasikan anggaran sebesar Rp300 miliar lebih
untuk membangun pedestrian deck Dukuh Atas yang akan menjadi ikon baru di
kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.
“Saat ini masih tender dan nilai investasi untuk
pembangunannya mencapai Rp300 miliar lebih,” kata Program Management Office
Division PT MRT Agus Trihan didampingi TOD Planning Department Head Sagita Devi
di Jakarta, Rabu.
Meskipun proyek ini masih belum tender dan untuk nilai
investasinya mencapai Rp300 miliar, namun pihaknya memastikan dalam pembangunan
ikon baru di kawasan Jalan Sudirman tersebut tidak menggunakan dana APBD DKI
Jakarta.
Ia merinci anggaran tersebut diambil dari investasi yang
diberikan ke PT MRT dan juga ada loan nantinya. “Sebagian diambil dari dana
investasi dan ada pinjaman juga,” kata dia.
Dalam pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas ini, kata Agus,
pihaknya tidak akan melakukan pembebasan lahan tapi bekerja sama dengan pihak
yang terhubung nantinya.
“Nilai ini murni untuk pembangunan saja,” ujarnya.
Ia mengatakan nantinya pedestrian berbentuk lingkaran
didisain mampu menahan berat 500 kilogram untuk satu meter persegi. Pedestrian
Deck Dukuh Atas ini menjadi ikon baru yang menjadi lokasi transit bagi warga
Jakarta yang ingin berpindah transportasi publik baik menggunakan MRT, LRT, KRL
hingga Transjakarta.
Di lokasi ini di sisi utara dan selatan juga akan dilebarkan
hingga tujuh meter yang disediakan untuk berhenti dan memandang keindahan
Jakarta.
"Di sini akan ada galeri sejarah nantinya,” kata dia.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi
melakukan peletakan batu pertama pedestrian deck Dukuh Atas berbentuk melingkar
Setiabudi, Jakarta Selatan dan menargetkan infrastruktur tersebut rampung pada
2028.
“Pencanangan pedestrian deck Dukuh Atas secara resmi saya
nyatakan dimulai. Semoga pembangunan ini akan membuat Jakarta menjadi semakin
baik transportasinya,” kata Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung di Jakarta,
Minggu (2/8).
Fasilitas khusus pejalan kaki ini dirancang untuk
menghubungkan berbagai moda transportasi publik yakni MRT Jakarta, LRT Jakarta,
LRT Jabodetabek, KRL, dan Transjakarta, dan kereta bandara.
Fasilitas tersebut dibuat melingkar dengan diameter sekitar
118 meter dan lebar kurang lebih 12 meter. Nantinya, akan ada area komersial di
sana, selain jalur pergerakan pejalan kaki di sana.
“Saya yakin pasti nanti kereta bandara akan hidup,
terintegrasi secara keseluruhan, dan city check-in,” kata Pramono.