Salah satu perusahaan penghasil emas terbesar di Indonesia
dan Asia Tenggara yang fokus pada komoditas emas, PT Archi Indonesia Tbk
(ARCI), memiliki sejumlah katalis positif yang berpotensi memperkuat pergerakan
saham.
Laba bersih ARCI pada semester I 2026 melonjak 130% menjadi
US$ 80 juta, melampaui proyeksi Mandiri Sekuritas dan konsensus analis.
Berdasarkan riset Mandiri Sekuritas, pendapatan ARCI pada
kuartal II 2026 mencapai US$ 185 juta, meningkat 82% secara tahunan. Dengan
demikian, pendapatan perseroan sepanjang semester I 2026 mencapai US$ 322 juta
atau tumbuh 78% secara tahunan.
Realisasi tersebut masing-masing setara 43% dari proyeksi
Mandiri Sekuritas dan 50% dari konsensus analis untuk tahun ini.
Kinerja tersebut terjadi di tengah tekanan harga emas dunia.
Namun, peningkatan volume penjualan hingga 33.000 ons troi mampu menopang
pertumbuhan pendapatan perseroan.
Mandiri Sekuritas mencatat laba bersih ARCI pada kuartal II
2026 mencapai US$ 50,5 juta, tumbuh 105% secara tahunan. Pertumbuhan laba
tersebut ditopang peningkatan penjualan.
"Kami melihat produksi dan penjualan bakal naik pada
kuartal mendatang," tulis Mandiri Sekuritas dalam risetnya, dikutip Minggu
(30/8/2026).
Selain kinerja keuangan, ARCI menargetkan produksi emas
sebanyak 140.000 ons troi pada 2026. Target tersebut meningkat 15% dan akan
didorong kontribusi dari lapangan Araren.
Sementara itu, proyek Kopra diperkirakan memberikan tambahan
positif terhadap kinerja perseroan dan saham ARCI. Namun, kontribusi proyek
tersebut belum diperhitungkan dalam panduan produksi perseroan saat ini.
ARCI juga berencana meningkatkan kapasitas fasilitas
pengolahan emas dari 4 juta ton menjadi 6 juta ton. Ekspansi tersebut
ditargetkan selesai pada semester I 2028.
Melihat prospek kinerja tersebut, Mandiri Sekuritas
mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ARCI dengan target harga Rp 2.300
per saham.
Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sebesar 59%
dibandingkan harga ARCI saat riset dibuat, yakni Rp 1.445 per saham.