Setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah juga diguncang gempa dengan magnitudo besar -->

Setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah juga diguncang gempa dengan magnitudo besar

Rabu, 19 Agustus 2026

 


Setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7  mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah juga diguncang gempa dengan magnitudo besar.

 

Pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kadek Hendrawan Palgunadi mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan hingga dua pekan setelah gempa utama.

 

Peneliti Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS tersebut menjelaskan Indonesia berada di kawasan tektonik yang kompleks dan memiliki banyak sesar aktif. Kondisi ini membuat gempa bumi menjadi fenomena yang cukup sering terjadi di berbagai daerah.

 

“Namun, gempa bumi yang terjadi secara beruntun bisa juga terjadi secara kebetulan,” ujar Kadek saat dihubungi, Selasa (18/8/2026).

Dosen Departemen Teknik Geofisika ITS itu mengatakan gempa di NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah berasal dari entitas tektonik serta sesar yang berbeda. Berdasarkan analisis awal, kemungkinan ketiga peristiwa tersebut memiliki keterkaitan dinilai sangat kecil.

 

Menurut Kadek, rangkaian gempa yang saling memicu umumnya berkaitan dengan aktivitas megathrust berkekuatan lebih dari magnitudo 8. Sementara itu, tiga gempa yang terjadi di wilayah berbeda tersebut memiliki sumber tektonik yang tidak sama.

 

Flores Memiliki Sesar Aktif

Khusus gempa di NTT, Kadek menjelaskan wilayah daratan Flores hingga bagian utara Bali dilintasi Flores Back-Arc Thrust. Sesar aktif tersebut sebelumnya pernah memicu gempa besar bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores pada 1992.

 

“Seismolog-seismolog Indonesia sudah mengekspektasikan sesar tersebut bisa menghasilkan magnitudo maksimal mencapai 7,8,” katanya.

 

Setelah gempa utama terjadi, masyarakat diminta tidak mengurangi kewaspadaan. Gempa susulan atau aftershock masih berpotensi terjadi karena adanya proses penyesuaian pada sesar-sesar kecil di sekitar patahan utama setelah pelepasan energi akibat gempa.

 

Kadek menjelaskan, secara statistik, kekuatan gempa susulan cenderung menurun seiring berjalannya waktu. Kendati demikian, kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan signifikan tetap harus diantisipasi.

 

“Jika diasumsikan gempa utamanya magnitudo 7,7 kemarin, secara statistik akan ada minimal tiga kali gempa magnitudo 6,” ungkap pakar kelahiran Bali tersebut.

 

Kadek mengimbau masyarakat terdampak, relawan, tim evakuasi, dan petugas asesmen bangunan untuk meningkatkan kewaspadaan selama dua pekan setelah gempa utama.

 

Selain mengantisipasi gempa susulan, pemeriksaan terhadap kondisi bangunan juga menjadi hal penting yang harus dilakukan setelah gempa. Asesmen fisik diperlukan untuk memastikan struktur bangunan masih aman dan layak ditempati.

 

Warga yang rumahnya mengalami keretakan atau kerusakan berisiko juga diminta tidak terburu-buru kembali ke rumah sebelum bangunan dinyatakan aman oleh petugas yang berwenang.

 

“Apabila kondisi hunian masih menunjukkan keretakan yang riskan, warga disarankan untuk tetap menetap sementara di lokasi evakuasi yang aman,” tutupnya.