Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan kerja sama konkret
negara-negara anggota BRICS, antara lain melalui penggunaan mata uang lokal
dalam transaksi dan konektivitas pembayaran lintas negara.
Gubernur BI Destry Damayanti dalam Pertemuan Menteri
Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS (2nd BRICS Finance Ministers and
Central Bank Governors Meeting/BRICS FMCBG) turut menekankan pentingnya menjaga
stabilitas sekaligus memperkuat sumber pertumbuhan untuk menghadapi tensi
geopolitik dan fragmentasi ekonomi.
“Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk
mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja
sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran
lintas negara, dengan tetap memperhatikan tahapan pembangunan dan prioritas
nasional masing-masing negara.” kata Destry sebagaimana siaran pers di Jakarta,
Jumat.
Sebagai bagian dari rangkaian pertemuan BRICS FMCBG di
Mumbai, India, Destry melakukan pertemuan bilateral dengan Gubernur Reserve
Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra.
Pertemuan membahas percepatan kerja sama local currency
transaction (LCT) Indonesia–India, local currency bilateral swap arrangement
(LCBSA), serta konektivitas pembayaran melalui QR antarnegara.
BI menyampaikan, kerja sama ini menjadi salah satu langkah
untuk menerjemahkan komitmen BRICS ke dalam konektivitas ekonomi dan keuangan
yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
Adapun BRICS FMCBG Kedua yang berlangsung pada Rabu (9/9)
hingga Kamis (10/9) juga dihadiri oleh Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung
sebagai perwakilan Indonesia.
Pertemuan ini dihadiri para pimpinan bank sentral dan
kementerian keuangan negara anggota BRICS, yaitu Indonesia, Brasil, Rusia,
India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, UEA, Ethiopia, dan Iran.
Pada pertemuan tersebut, negara-negara anggota BRICS
menyepakati komitmen untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan serta
meningkatkan resiliensi dalam menghadapi tantangan global.
Kesepakatan ini dirumuskan pasca pembahasan sejumlah isu
strategis terkait penguatan resiliensi dan pertumbuhan, transformasi digital
dan AI, konektivitas pembayaran lintas negara, penggunaan mata uang lokal,
ketahanan siber, serta keuangan berkelanjutan.
BRICS juga menyepakati pentingnya penguatan arsitektur
keuangan global, antara lain melalui reformasi tata kelola IMF untuk memperkuat
suara dan representasi negara berkembang.
Sejalan dengan kesepakatan tersebut, Indonesia menekankan
pentingnya menjadikan keberagaman karakteristik negara anggota sebagai kekuatan
untuk membangun kerja sama yang saling melengkapi dan menghasilkan nilai tambah
bersama.
Pertemuan BRICS FMCBG Kedua menyepakati Pernyataan Bersama
yang merefleksikan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Ke depan, Indonesia memandang penting untuk menjaga ruang
dialog dan membangun jembatan di tengah fragmentasi global.
Melalui sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah, Indonesia
akan terus berkontribusi dalam agenda kerja sama internasional untuk
menghasilkan langkah-langkah konkret yang inklusif dan sejalan dengan prioritas
nasional, guna mendukung ketahanan ekonomi dan keuangan Indonesia.