Honda mengambil langkah merespons yang tergolong ekstrem untuk menjaga keberlangsungan bisnisnya. Pabrikan asal Jepang tersebut memilih untuk membabat biaya operasional secara besar-besaran, dengan target penghematan pasokan komponen mencapai lebih dari 9,4 miliar dolar AS atau setara Rp 145 triliun hingga tahun 2030 mendatang.
Disebutkan Autoblog, Jumat (4/9/2026), pemangkasan biaya
komponen itu dilakukan untuk menjaga persaingan antara Honda dengan mobil-mobil
asal China yang kini terus merangsek setiap pasar otomotif di dunia. Strategi
ini diharapkan bisa menutup celah persaingan dengan sangat cepat.
Langkah efisiensi ini terasa cukup mengejutkan bagi banyak
pihak, mengingat Honda memilih menekan sektor biaya komponen yang menjadi kunci
utama reputasi durabilitas mereka selama ini. Bahkan, pemangkasan harga pada
sejumlah jenis suku cadang ditargetkan bisa menyentuh angka hingga 30 persen.
Berdasarkan dokumen internal dan informasi dari
sumber-sumber yang mengetahui rencana tersebut, Honda berencana mendorong
pemanfaatan komponen yang telah terstandardisasi secara massal. Selain itu,
pimpinan manajemen Honda juga mulai mengarahkan para pemasok utama (tier-1)
untuk lebih banyak mengandalkan jaringan pemasok tingkat kedua dan ketiga
(tier-2 dan tier-3).
Uniknya, dalam skema efisiensi ini, pabrikan suku cadang
asal Tiongkok dipastikan bakal memegang peranan yang cukup besar. Manajemen
Honda secara terbuka mendorong para pemasoknya untuk memanfaatkan komponen
buatan pabrikan Tiongkok sebanyak mungkin apabila memungkinkan.
“Melalui skema tersebut, Honda menargetkan potensi
penghematan tahunan sekitar 2,4 miliar dolar AS selama empat tahun ke depan,
sebuah angka pemangkasan yang sangat agresif dalam standar industri otomotif,”
tulis Autoblog.
Langkah ini pada dasarnya merupakan upaya Honda untuk
mengalahkan produsen otomotif Tiongkok menggunakan strategi mereka sendiri,
yakni dengan meminjam keunggulan efisiensi biaya yang sebelumnya membuat
merek-merek Tiongkok menjadi sangat kompetitif. Namun, para mitra pemasok
melaporkan bahwa target yang ditetapkan Honda terbilang sangat ekstrem,
sehingga memicu keraguan besar mengenai seberapa jauh pemotongan biaya tersebut
dapat dilakukan tanpa mengorbankan kualitas material kendaraan maupun marjin
keuntungan pemasok.
Desakan efisiensi ini terasa kian mendesak setelah strategi
besar Honda di sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mengalami
hambatan signifikan di pasar global. Perusahaan memperkirakan potensi kerugian
terkait pengembangan lini bisnis EV dapat melampaui angka 12 miliar dolar AS,
yang pada akhirnya memaksa mereka mengalihkan fokus utama kembali ke
pengembangan lini kendaraan hibrida (hybrid).
Kondisi finansial tersebut membuat target efisiensi sebesar
9,4 miliar dolar AS ini berfungsi layaknya tindakan penyelamatan darurat bagi
perusahaan. Honda saat ini membutuhkan modal produksi kendaraan yang lebih
murah, marjin keuntungan yang lebih sehat, serta dana cadangan yang cukup untuk
terus membiayai riset teknologi kendaraan generasi berikutnya.
Pada saat yang sama, rival utama mereka seperti BYD terus
berekspansi secara agresif ke berbagai pasar global, sehingga langkah
penghematan ini menjadi pertaruhan penting bagi Honda untuk membeli waktu demi
mengejar ketertinggalan.