Kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia telah mencapai Filipina dan memicu gangguan aktivitas masyarakat. Pemerintah daerah di sejumlah wilayah bahkan menangguhkan kegiatan belajar -->

Kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia telah mencapai Filipina dan memicu gangguan aktivitas masyarakat. Pemerintah daerah di sejumlah wilayah bahkan menangguhkan kegiatan belajar

Rabu, 02 September 2026

 

Kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia telah mencapai Filipina dan memicu gangguan aktivitas masyarakat. Pemerintah daerah di sejumlah wilayah bahkan menangguhkan kegiatan belajar mengajar setelah kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

 


Pemerintah daerah Kota Quezon, wilayah yang berada di kawasan ibu kota Metro Manila, membatalkan kegiatan belajar untuk anak-anak setelah mencatat tingkat kualitas udara dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

 

 “Masyarakat, khususnya mereka yang termasuk dalam kelompok rentan, disarankan untuk mengenakan masker sebagai tindakan pencegahan terhadap dampak kualitas udara yang buruk," demikian bunyi imbauan pemerintah Kota Quezon dilansir Khaleejtimes, Selasa (1/9/2026).

 

"Warga yang perlu beraktivitas di luar ruangan juga diimbau untuk mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan dan membatasi paparan terhadap area dengan tingkat kualitas udara yang tidak sehat,” tulisnya lagi.

 

Kota dan wilayah lain di Filipina juga terdampak kabut asap yang diduga berasal dari Kalimantan, Indonesia. Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam-Biro Manajemen Lingkungan (DENR-EMB) menyebut asap tersebut kemungkinan terbawa angin melintasi perbatasan.

 

"Kabut asap yang diamati kemungkinan terkait dengan asap dan kabut lintas batas, yang mungkin telah terbawa ke arah Filipina oleh angin yang bertiup," kata DENR-EMB.

 

 

Badan tersebut melaporkan kualitas udara di sejumlah wilayah Filipina masuk kategori sangat tidak sehat. Las Piñas dan Kota Parañaque termasuk wilayah yang mencatat kualitas udara dalam kategori tersebut.

 

Kondisi tersebut terjadi ketika musim kebakaran hutan di Indonesia mulai berlangsung. Kebakaran dilaporkan melanda lima pulau utama, yakni Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Papua, selama sekitar sebulan.

 

Kondisi cuaca yang disebut super-El Niño turut memperburuk situasi kebakaran di sejumlah wilayah negara-negara Pasifik barat. Tim penyelamat juga terus berupaya memadamkan api yang oleh sejumlah warga disebut sebagai kebakaran terburuk sejak 2015.

 

Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengatakan pemerintah telah mengerahkan puluhan helikopter, pesawat terbang, pompa air, dan ribuan personel untuk memerangi kebakaran. Upaya tersebut juga diarahkan untuk mencegah penyebaran asap dari sejumlah titik api, termasuk di Pulau Borneo yang memiliki kawasan gambut mudah terbakar.

 

Kementerian Kesehatan Indonesia juga disebut telah mendistribusikan lebih dari 260.000 masker kepada warga. Pemerintah memperkirakan sekitar 3,4 juta orang berisiko mengalami infeksi pernapasan akibat paparan asap dan kabut asap.

 

 

 

Kebakaran hutan di Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi faktor manusia dan kondisi iklim. Dalam studi mengenai kebakaran hutan Indonesia pada 2015, peneliti dari Australian National University dan Stanford University menemukan pembangunan desa yang pesat di kawasan hutan, ditambah fenomena El Niño, dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran.

 

Para pemukim baru juga memiliki sejarah menggunakan pembakaran untuk membuka lahan pertanian. Hal tersebut menjadi salah satu kesimpulan dalam makalah 2019 berjudul Penyebab Kebakaran Hutan di Indonesia.

 

Kebakaran hutan Indonesia pada 2015 diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari US$ 16 miliar. Studi tersebut juga memperkirakan lebih dari 100.000 kematian dini berkaitan dengan dampak kebakaran dan kabut asap.

 

Pada beberapa hari selama periode tersebut, emisi karbon dioksida dari kebakaran bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan emisi seluruh perekonomian Amerika Serikat. Desa-desa yang lebih terpencil dan kurang berkembang juga disebut lebih rentan mengalami kebakaran sekaligus menghadapi degradasi lingkungan yang cepat.

 

“Hubungan erat antara kemiskinan dan kebakaran di tingkat desa menunjukkan bahwa dorongan kebijakan saat ini untuk pembangunan desa mungkin menawarkan peluang untuk membalikkan tren ini,” ujar para peneliti.

 

Paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Para profesional kesehatan menyarankan masyarakat mengurangi paparan asap, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.

 

Langkah pertama yang disarankan adalah tetap berada di dalam ruangan dengan jendela dan pintu tertutup rapat. Jika aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, maka masyarakat dianjurkan menggunakan masker N95 atau KN95 untuk membantu menyaring partikel polutan halus.

 

Masker bedah standar tidak dirancang untuk memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel polutan berukuran sangat kecil. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dihindari dan durasi berada di luar ruangan dikurangi ketika kualitas udara memburuk.

 

Masyarakat juga dianjurkan menjaga asupan cairan dengan cukup minum untuk membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan dan mengurangi iritasi.