Kesepakatan minyak jangka panjang antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memunculkan tanda tanya di kalangan ahli. -->

Kesepakatan minyak jangka panjang antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memunculkan tanda tanya di kalangan ahli.

Selasa, 01 September 2026

 


Kesepakatan minyak jangka panjang antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memunculkan tanda tanya di kalangan ahli. Kerja sama tersebut diperkirakan memberikan akses kepada AS atas sekitar 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela yang dapat dipulihkan.

 

Melansir Reuters, Senin (31/8/2026), kesepakatan yang diumumkan Presiden AS Donald Trump dan dikonfirmasi Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez itu diperkirakan berlangsung sedikitnya 25 tahun. Namun, sejumlah ahli mempertanyakan legalitas, mekanisme pelaksanaan, serta transparansi kesepakatan yang dibuat kedua negara.

 

Pakta tersebut mencakup 17 ladang minyak Venezuela. AS diperkirakan akan memiliki 55% kepemilikan dalam kemitraan untuk mengembangkan ladang-ladang tersebut. Volume minyak yang dapat dipulihkan itu bahkan lebih besar dibandingkan total cadangan minyak terbukti AS yang tercatat sekitar 46 miliar barel.

 

Kesepakatan tersebut tidak melalui proses kompetitif. Negosiasinya juga dirahasiakan hingga pekan lalu, ketika Venezuela sedang melakukan reformasi terhadap undang-undang hidrokarbon serta memindahkan sejumlah usaha patungan dan kontrak ke ketentuan baru.

 

Trump sebelumnya menyebut kesepakatan tersebut akan melibatkan kemitraan dengan bisnis swasta. Namun, pemerintah AS belum mengungkap perusahaan mana yang akan ditunjuk untuk mengoperasikan ladang minyak atas nama Washington.

 

Peneliti senior adjunkt di Center on Global Energy Policy Columbia University Luisa Palacios mengatakan, kesepakatan tersebut justru berpotensi meningkatkan risiko investasi di Venezuela.

 

"Jika tujuannya adalah untuk mencoba mengurangi risiko investasi di Venezuela, Amerika Serikat mungkin justru melakukan hal yang sebaliknya dengan transaksi ini semakin melemahkan kerangka kelembagaan negara yang sudah rapuh," kata Palacios.

 

Menurut Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez, kesepakatan tersebut akan berlangsung sedikitnya 25 tahun sesuai dengan Undang-Undang Hidrokarbon Venezuela. Investasi yang dijanjikan mencapai US$ 100 miliar, sedangkan royalti dan pajak diperkirakan mencapai US$ 209,3 miliar.

 

Namun, pakar hukum Venezuela Juan Carlos Apitz mempertanyakan legalitas kesepakatan tersebut, terutama karena AS disebut akan menentukan model dan perusahaan yang mengoperasikan ladang minyak.

 

"Meski secara resmi diakui oleh AS, kesepakatan tersebut dapat dibawa ke pengadilan di kemudian hari," kata Apitz.

 

Keraguan juga muncul terkait besaran penerimaan pajak yang akan diperoleh Venezuela. Francisco Monaldi dari Baker Institute Rice University menilai penerimaan pajak yang diumumkan pemerintah sementara Venezuela sangat rendah dan mengkritik kurangnya transparansi dalam kebijakan minyak negara tersebut.

 

Analisis konsultan Gas Energy Latin America yang berbasis di Caracas menunjukkan 17 ladang tersebut memiliki sekitar 63,7 miliar barel cadangan terbukti dengan asumsi tingkat perolehan kembali sebesar 20%. Pengembangan seluruh cadangan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 25 tahun.

 

Ladang-ladang tersebut terdiri atas aset yang sudah berproduksi maupun wilayah yang membutuhkan pengembangan. Kondisi itu memungkinkan operator memulai produksi dari basis yang sudah tersedia, sembari memperbaiki infrastruktur di Danau Maracaibo dan mengembangkan kawasan Orinoco Belt yang memiliki cadangan minyak ekstra berat.

 

Dengan kepemilikan 55% dalam kemitraan tersebut, AS berpotensi meningkatkan volume minyak Venezuela yang dikirim ke negaranya. Saat ini, sekitar 60% ekspor minyak Venezuela telah dikirim ke AS.

 

Trump juga mengatakan tambahan pasokan minyak Venezuela dapat membantu mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis AS. Persediaan cadangan tersebut pada Agustus 2026 tercatat sekitar 290 juta barel, mendekati level terendah dalam 44 tahun.