Obat berbahan aktif semaglutide seperti Ozempic dan Wegovy
dikaitkan dengan risiko rawat inap psikiatris yang lebih rendah pada orang
dengan gangguan bipolar. Temuan tersebut berasal dari penelitian yang
melibatkan hampir 15.000 orang di Swedia dan dipimpin peneliti Griffith
University, Australia.
Dalam studi tersebut, peneliti menganalisis data 14.694
orang dengan gangguan bipolar selama periode 2009-2024. Hasilnya, penggunaan
semaglutide dikaitkan dengan risiko rawat inap psikiatris 21% lebih rendah
dibandingkan periode ketika orang yang sama tidak menggunakan obat GLP-1.
Dilansir Nypost, Kamis (10/9/2026), penelitian ini dipimpin
Profesor Mark Taylor dari School of Medicine and Dentistry, Griffith
University. Hasil penelitian telah diterbitkan dalam jurnal Acta Psychiatrica
Scandinavica.
“Penderita gangguan bipolar yang mengonsumsi semaglutide
(dikenal juga sebagai Ozempic atau Wegovy), sejenis obat GLP-1 memiliki tingkat
rawat inap psikiatris yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode saat
mereka tidak mengonsumsi obat GLP-1," ucapnya.
Taylor mengatakan temuan tersebut menambah bukti mengenai
kemungkinan manfaat agonis reseptor GLP-1 di luar pengobatan diabetes dan
obesitas.
Namun, ia menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk
menguji temuan tersebut.
"Temuan ini menambah bukti yang terus berkembang bahwa
agonis reseptor GLP-1 mungkin memiliki manfaat di luar pengobatan diabetes dan
obesitas, serta dapat menjadi jalan baru yang menjanjikan bagi penelitian gangguan
bipolar," jelasnya.
Bukan Berarti Ozempic Terbukti Mengobati Bipolar
Semaglutide merupakan bahan aktif dalam Ozempic yang
digunakan untuk diabetes tipe 2, serta Wegovy yang digunakan untuk penanganan
obesitas. Keduanya merupakan obat berbasis agonis reseptor GLP-1.
Namun, hasil penelitian tersebut tidak dapat diartikan bahwa
Ozempic telah terbukti mengobati gangguan bipolar. Penelitian yang dilakukan
merupakan studi kohort berbasis data nasional Swedia sehingga menunjukkan
hubungan atau asosiasi, bukan bukti sebab-akibat.
Dalam penelitian tersebut, semaglutide juga dikaitkan dengan
risiko kekambuhan gangguan bipolar yang 17% lebih rendah. Sementara itu,
liraglutide dan dulaglutide tidak menunjukkan hubungan yang sama dengan
penurunan risiko rawat inap psikiatris.
Para peneliti menduga mekanisme GLP-1 mungkin berkaitan
dengan proses biologis seperti peradangan dan stres seluler yang berhubungan
dengan gangguan bipolar. Namun, mekanisme tersebut masih perlu diteliti lebih
lanjut dan belum dapat dianggap sebagai penjelasan yang sudah terbukti.
Penelitian Lanjutan Masih Dibutuhkan
Griffith University menyebut temuan tersebut sebagai peluang
baru dalam penelitian gangguan bipolar. Taylor berharap hasilnya dapat diuji
melalui uji terkontrol secara acak untuk mengetahui apakah semaglutide
benar-benar memiliki efek terhadap kondisi tersebut.
Temuan ini juga menjadi bagian dari meningkatnya penelitian
mengenai kemungkinan hubungan obat GLP-1 dengan kesehatan mental. Meski
demikian, obat GLP-1 saat ini tetap digunakan terutama untuk indikasi medis
seperti diabetes dan obesitas, bukan sebagai pengganti terapi gangguan bipolar
yang telah diresepkan dokter.
Karena itu, hasil penelitian tersebut tidak seharusnya
menjadi alasan bagi pasien untuk memulai, menghentikan, atau mengubah
penggunaan obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.