Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence
(AI) menjadi sebagai salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi stabilitas
keuangan global.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyoroti
perkembangan AI dapat menimbulkan risiko stabilitas keuangan apabila teknologi
tersebut berkembang di luar kendali manusia.
Pemerintah umumnya memperoleh pembiayaan dengan menerbitkan
obligasi dan membayar bunga kepada investor yang membelinya. Kekhawatiran
terhadap inflasi yang dapat menggerus tingkat pengembalian investasi telah
mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan imbal hasil juga dipengaruhi meningkatnya
persaingan memperoleh pendanaan di pasar obligasi. Perusahaan-perusahaan
teknologi besar membutuhkan modal dalam jumlah besar untuk membiayai
pengembangan AI.
“Jika kita melihat lebih banyak kejadian ketika AI mulai
berjalan dengan sendirinya, kita dapat menghadapi risiko stabilitas keuangan
yang signifikan,” ujarnya dilansir dari Reuters.
Menurut Georgieva, perekonomian global saat ini menghadapi
dua kekuatan yang bergerak berlawanan arah, yakni tekanan akibat lonjakan harga
energi dan dorongan investasi besar-besaran pada AI.
Dia menilai pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk perlu
kembali normal secara berkelanjutan agar tekanan harga energi mereda.
Normalisasi pasokan energi dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi
tekanan terhadap perekonomian global.