PSSI resmi menjalin kerja sama dengan raksasa Belanda, Ajax
Amsterdam, untuk memperkuat sistem pembinaan sepak bola Indonesia. Kolaborasi
tersebut akan berfokus pada pengembangan pemain serta peningkatan kualitas
pelatih dengan mengadaptasi filosofi pembinaan Ajax.
Melalui kerja sama ini, PSSI dan Ajax berencana menjalankan
program berskala nasional yang memberikan kesempatan kepada pesepak bola
Indonesia untuk berkembang menggunakan metode pembinaan klub asal Amsterdam
tersebut.
Dikutip dari Flashscore, Sabtu (12/9/2026), Ajax juga akan
membantu meningkatkan kualitas pelatih di Indonesia dengan melibatkan tenaga
pelatih serta tenaga profesional yang memiliki keahlian dalam sistem pembinaan
klub tersebut.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyambut positif kolaborasi
tersebut. Ia menilai Indonesia masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah dalam
pembangunan sistem pembinaan pemain usia muda.
"Sepak bola adalah olahraga paling populer di
Indonesia, tetapi kami harus mengakui masih menghadapi tantangan dalam sistem
pengembangan pemain muda. Kami ingin terus belajar dan mengadaptasi sistem yang
berhasil diterapkan di Belanda," kata Erick.
Menurutnya, Ajax menjadi mitra strategis karena memiliki
rekam jejak panjang dalam melahirkan pemain-pemain berkualitas melalui sistem
akademi mereka.
"Kami bangga menjalin kerja sama dengan Ajax, klub
besar dengan filosofi pengembangan yang telah teruji dan memiliki hubungan
sejarah khusus dengan Indonesia," ujarnya.
Erick berharap pengetahuan dan pengalaman Ajax dapat
memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pelatih sekaligus pembinaan
talenta sepak bola Indonesia.
"Melalui pengetahuan dan pengalaman Ajax, kami dapat
mengambil langkah penting untuk meningkatkan kualitas pelatih dan talenta sepak
bola di Indonesia," katanya.
Potensi Besar Indonesia
CEO Ajax Menno Geelen mengatakan kolaborasi dengan PSSI
sejalan dengan ambisi klub untuk mempertahankan reputasi sebagai salah satu
institusi pengembangan pemain terbaik dunia.
Ajax ingin membagikan sistem serta keahlian pembinaan mereka
ke sejumlah negara yang dinilai mempunyai potensi besar dalam pengembangan
sepak bola.
"Kami ingin mempertahankan posisi sebagai salah satu
organisasi pengembangan talenta terbaik di dunia dan membagikan pengetahuan
kami di pasar yang relevan," kata Geelen.
Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang
menarik perhatian Ajax karena mempunyai jumlah penduduk besar serta antusiasme
tinggi terhadap sepak bola.
"Indonesia adalah salah satunya, negara yang besar,
memiliki potensi luar biasa, dan gairah yang sangat tinggi terhadap sepak
bola," ujarnya.
Geelen mengatakan komunikasi Ajax dengan sepak bola
Indonesia sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun. Kesepakatan
dengan PSSI kemudian menjadi kelanjutan dari hubungan tersebut.
"Kami telah berkomunikasi selama beberapa tahun dan
bangga bisa membangun hubungan dengan sepak bola Indonesia serta berkontribusi
terhadap perkembangan olahraga ini di negara tersebut," katanya.
Peran Jordi Cruyff
Kerja sama PSSI dan Ajax juga tidak terlepas dari keberadaan
Jordi Cruyff yang memiliki keterkaitan dengan kedua organisasi.
Cruyff merupakan penasihat teknis PSSI dan saat ini juga
berada dalam struktur teknis Ajax. Situs resmi Ajax mencatat Cruyff tetap
memiliki peran sebagai penasihat PSSI di tengah pekerjaannya bersama klub
Belanda tersebut.
Hubungan tersebut berpotensi membuka jalur pertukaran
pengetahuan mengenai pembinaan pemain, pengembangan pelatih, hingga penerapan
filosofi sepak bola yang selama ini menjadi identitas Ajax.
Ajax dikenal memiliki tradisi panjang dalam pembinaan pemain
melalui akademinya. Klub Amsterdam tersebut juga membangun jaringan kerja sama
sepak bola internasional untuk membagikan metode pengembangannya.
PSSI kini masuk ke dalam jaringan internasional tersebut.
Ajax sebelumnya telah memiliki hubungan kerja sama dengan sejumlah klub dari
berbagai negara, termasuk Gamba Osaka di Jepang, Pachuca di Meksiko, LASK Linz
di Austria, serta Como 1907 di Italia.
Kerja sama dengan Ajax menjadi bagian dari upaya PSSI
memperkuat fondasi pembinaan sepak bola Indonesia, khususnya dalam menyiapkan
pelatih berkualitas dan memperluas jalur pengembangan talenta muda.
Erick berharap proses tersebut dapat membantu Indonesia
membangun sistem pembinaan yang berkesinambungan sehingga pengembangan pemain
tidak hanya bergantung pada pembentukan tim nasional, tetapi dimulai sejak
level usia muda.