Volkswagen grup memulai rencana restrukturisasi perusahaan
dengan menyederhanakan operasional dan menutup pabrik menyusul penurunan omset.
Melansir Top Gear, Jumat (4/9) waktu setempat, perusahaan
itu menargetkan model kendaraan hanya akan tersedia setidaknya setengah dari
jumlah yang dimiliki saat ini atau 75 dari total 150 merek.
"Kami sedang berada dalam transformasi terbesar dalam
sejarah industri otomotif global. Semua orang terpengaruh oleh tarif AS, oleh
runtuhnya pasar China dan erosi harga besar-besaran di sana, oleh konflik
geopolitik seperti di Teluk Persia, oleh persaingan yang semakin ketat di
Eropa, dan oleh regulasi yang menyeluruh," ujar CEO Volkswagen Group
Oliver Blume.
Baca juga: Rivian dan VW kerja sama ciptakan teknologi
kendaraan canggih kendaraan pada 2024
Ia menambahkan bahwa, dengan demikian maka perusahaan telah
bertekat untuk menghentikan produksi mobil yang kurang diminati atau duplikasi
merek terkait.
Pihaknya juga akan menghapus seluruh merek Seat, hal ini
karena menjadi pengalih perhatian Cupra yang lebih sukses dan terlalu mirip
dengan VW.
Efisiensi juga akan dilakukan dengan menghapus kerumitan
konfigurator, varian, mesin dan transmisi serta opsi akan dikurangi dan
berfokus pada sisi yang menjadi favorit konsumen.
Hal ini pun diproyeksi akan berdampak pada ketersediaan suku
cadang di diler.
Adapun hingga kini beberapa merek seperti Audi, Bentley, dan
Lamborghini yang berada di bawah naungan grup itu memiliki 2.600 variasi jok
dan akan dikurangi menjadi 100 saja.
Meski demikian, Blume menegaskan bahwa grup VW akan tetap
menghadirkan kendaraan dengan berbagai rentang harga yang dimulai dari Skoda
hingga Lamborghini Porsche dan Bentley pada kendaraan kelas premium dan akan
tetap beroperasi secara global.
Melihat pasar China, VW juga bakal memangkas biaya di negara
itu dan diproyeksi akan mengekspor banyak mobil buatan China ke Inggris seperti
yang telah dilakukan melalui Cupra Tavascan.
Sebagaimana diketahui pada 2024, perusahaan otomotif asal
Jerman ini telah mengumumkan pengurangan karyawan secara masif, meski demikian
perusahaan saat ini mendapatkan margin 3,8 persen.
Grup itu diketahui sebelumnya telah memproduksi kendaraan
sebanyak 11 juta pada 2019, dan kini berencana hanya memproduksi 9 juta.