Arus dana ke bitcoin kembali menguat seiring harga yang bergerak di atas US$ 80.000. -->

Arus dana ke bitcoin kembali menguat seiring harga yang bergerak di atas US$ 80.000.

Minggu, 04 Oktober 2026

 Arus dana ke bitcoin kembali menguat seiring harga yang bergerak di atas US$ 80.000. Kondisi ini turut membuat perdagangan futures semakin menjadi perhatian pelaku pasar.



Data Farside Investors menunjukkan ETF bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat net inflow sebesar US$ 999 juta pada 21 September 2026, US$7 14,7 juta pada 22 September, dan US$ 346,9 juta pada 23 September. Dengan demikian, total arus dana bersih yang masuk dalam tiga hari tersebut mencapai sekitar US$ 2,06 miliar.


Arus dana tersebut terjadi ketika bitcoin kembali menguat. Coinbase Institutional mencatat ETF bitcoin spot AS menerima hampir US$ 1 miliar pada 21 September, menjadi arus masuk harian terbesar sejak Oktober 2025 dan turut membawa bitcoin melewati level US$ 80.000.


Pada periode yang sama, open interest bitcoin juga mencatat kenaikan tujuh hari tercepat sejak Juli 2025. Kondisi ini menunjukkan aktivitas di pasar derivatif ikut meningkat seiring kembali menguatnya perhatian terhadap Bitcoin.


Meningkatnya arus dana di pasar spot dan aktivitas pasar derivatif menunjukkan semakin beragamnya cara pelaku pasar mendapatkan eksposur terhadap bitcoin. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa arus dana ETF secara langsung menyebabkan peningkatan perdagangan futures.


Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn mengatakan, meningkatnya arus dana institusional dan aktivitas perdagangan dapat membuat pergerakan harga berlangsung lebih dinamis. Karena itu, pelaku pasar perlu memperhatikan likuiditas, volatilitas, dan risiko instrumen yang digunakan.


“Ketika arus dana institusional dan aktivitas perdagangan meningkat, pergerakan harga dapat berlangsung lebih dinamis. Kondisi seperti ini membuat trader perlu melihat bukan hanya arah harga, tetapi juga likuiditas, volatilitas, dan risiko dari instrumen yang digunakan,” ujar Ryan dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2026).


Menurut Ryan, futures memungkinkan trader mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga bitcoin melalui kontrak tanpa harus membeli aset dasarnya secara langsung. Instrumen ini juga dapat digunakan untuk mengambil posisi long maupun short, serta kebutuhan hedging dan arbitrase.


Namun, mekanisme margin dan leverage membuat risiko futures berbeda dengan transaksi spot. Ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi, margin dapat berkurang dan posisi berpotensi mengalami likuidasi.


“Futures memiliki mekanisme dan tingkat risiko yang berbeda dari spot. Leverage dapat memberikan eksposur dengan margin tertentu, tetapi juga dapat memperbesar kerugian ketika pasar bergerak berlawanan dengan posisi,” kata Ryan.


Dia menambahkan, pelaku pasar perlu memahami mekanisme seperti funding rate, persyaratan margin, ukuran posisi, hingga perbedaan isolated margin dan cross margin sebelum melakukan transaksi.


Ryan mengatakan, perkembangan instrumen perdagangan aset digital perlu diikuti dengan edukasi mengenai mekanisme dan risikonya. Menurutnya, pengguna perlu memahami karakteristik produk yang digunakan sebelum melakukan transaksi, terutama pada instrumen yang memiliki mekanisme margin dan leverage.


“Perkembangan Futures di Indonesia perlu berjalan bersama dengan edukasi. Pengguna perlu memahami margin, leverage, liquidation, funding, dan ukuran posisi sebelum melakukan transaksi,” lanjut Ryan.


Menurutnya, pertumbuhan pasar aset digital tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya pilihan instrumen, tetapi juga kemampuan pengguna memahami cara kerja dan risiko dari setiap produk.


Sebagai platform perdagangan aset keuangan digital, Bittime menyediakan perdagangan futures melalui kontrak perpetual, selain perdagangan spot dan layanan staking. Platform tersebut menyediakan posisi long dan short serta mekanisme cross dan isolated margin, dengan leverage hingga 25 kali pada pasangan tertentu.


Bittime juga menerapkan know your customer (KYC), know your transaction (KYT), dan anti-money laundering (AML), serta assessment sebelum pengguna mengakses fitur futures.