Fenomena iklim global Super El Niño menunjukkan peningkatan intensitas yang kian mengkhawatirkan. Pemantauan satelit terbaru mengungkap bahwa massa air laut bersuhu hangat di Samudra Pasifik telah meluas secara signifikan dan membentuk "lengan baru" (extra arm), yang memicu peringatan dari para ilmuwan bahwa fenomena tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam kurun waktu 1.000 tahun terakhir.
Berdasarkan citra data yang dirilis oleh Badan Meteorologi dan Hidrologi Nasional Peru (Senamhi), peta suhu permukaan laut pada pertengahan Oktober merekam pergerakan massa air panas yang tak biasa.
“Jika pada akhir September pita air hangat hanya membentang di lepas pantai Ekuador dan Peru, data terbaru menunjukkan bahwa hawa panas tersebut kini menjulur ke selatan menyusuri pesisir Cile hingga merambah ke wilayah Pasifik Tenggara,” tulis Dailymail, Jumat (16/10/2026).
Perkembangan geografis ini mengakibatkan area Samudra Pasifik Timur kini mengalami lonjakan suhu permukaan air laut yang sangat ekstrem. Di beberapa titik koordinat, temperatur air laut tercatat melonjak lebih dari 3 derajat celsius di atas ambang batas rata-rata normal, menciptakan kolam panas raksasa yang mempengaruhi pola sirkulasi atmosfer bumi.
Peningkatan suhu yang tidak biasa ini memperkuat prediksi para pakar iklim mengenai keganasan El Niño kali ini. Ilmuwan iklim ternama, Zeke Hausfather, menyatakan bahwa berdasarkan pemodelan data puncak intensitas terbaru, fenomena El Niño yang tengah berlangsung sangat berpotensi memecahkan rekor sebagai peristiwa iklim terkuat dalam sejarah milenium terakhir.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengonfirmasi bahwa terdapat peluang mendekati 100 persen bagi El Niño untuk terus bertahan dengan kekuatan penuh hingga memasuki awal tahun depan. Meteorolog memprediksi puncak intensitas fenomena ini akan terjadi pada Desember mendatang dan berdampak langsung pada pergeseran pola cuaca ekstrem, mulai dari badai hebat, gelombang panas, hingga kekeringan panjang di berbagai belahan dunia.
Di Eropa, pemerintah Inggris bahkan telah merilis imbauan resmi bagi warganya untuk mengantisipasi musim gugur yang sangat basah dan berbadai, yang akan disusul oleh musim dingin dengan kondisi ekstrem. Peneliti iklim dari Universitas Oxford, Dr Chloe Brimicombe, mengingatkan bahwa cuaca dingin yang tenang dapat mengganggu pasokan energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga angin yang menyuplai lebih dari 40 persen kebutuhan energi di wilayah tersebut.
Secara teknis, El Niño merupakan bagian dari siklus alami El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Kondisi ini dipicu oleh melemah atau berbaliknya arah angin pasat yang biasanya bertiup membawa air hangat ke arah Australia, sehingga massa air panas berkumpul di Pasifik Khatulistiwa dekat Amerika Selatan dan mendongkrak suhu rata-rata planet bumi secara drastis.
Dengan proyeksi bahwa hampir seluruh peta suhu bumi berada dalam zona merah (above-average temperatures), para pakar mengimbau setiap negara untuk memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi. Kombinasi antara Super El Niño dan rekor suhu lautan yang terus memanas dikhawatirkan akan memicu gelombang bencana alam yang mengancam ketahanan pangan dan energi global selama beberapa bulan ke depan.
