Kelompok peretas yang dikaitkan dengan China menyamar sebagai pakar kecerdasan artifisial (AI) Amerika Serikat (AS) -->

Kelompok peretas yang dikaitkan dengan China menyamar sebagai pakar kecerdasan artifisial (AI) Amerika Serikat (AS)

Sabtu, 03 Oktober 2026

Kelompok peretas yang dikaitkan dengan China menyamar sebagai pakar kecerdasan artifisial (AI) Amerika Serikat (AS) untuk mencoba mencuri kata sandi dan mengakses surat elektronik (email) para ahli AI.

 


Perusahaan keamanan siber Proofpoint mengatakan kelompok yang mereka sebut “TA419” tersebut telah membidik orang-orang yang bekerja di lembaga pemikir, kontraktor pertahanan, universitas, dan firma hukum di AS serta Jepang sejak setidaknya 2025.

 

Dalam laporan, Proofpoint mengatakan aktivitas kelompok tersebut diduga berkaitan dengan upaya pengumpulan informasi intelijen China. Penilaian itu didasarkan pada jenis malware yang digunakan, infrastruktur internet untuk menjalankan serangan, serta sasaran yang dipilih.

 

Dalam kampanye terbaru, para peretas mengirim email yang seolah-olah berasal dari pakar AI atau kebijakan kenegaraan. Salah satu nama yang digunakan adalah Lynne Parker, mantan wakil direktur utama Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih.

 

Menurut Proofpoint, email tersebut biasanya menawarkan kerja sama atau inisiatif terkait AI sebelum mengarahkan penerima ke situs yang dirancang untuk mencuri kata sandi.

 

Proofpoint tidak mengungkap seluruh organisasi yang menjadi sasaran. Namun, perusahaan tersebut mengatakan targetnya termasuk para ahli yang menangani regulasi AI, pengendalian ekspor, dan strategi AI nasional.

 

Reuters secara terpisah mengidentifikasi salah satu target, yakni Alex Engler, mantan pejabat Gedung Putih yang kini memimpin Penn Center on Media, Technology, and Democracy.

 

Engler mengatakan kepada Reuters pada Rabu (30/9/2026) dia menerima email yang tampak berasal dari Parker. Email tersebut mengundangnya bergabung dalam proyek kebijakan AI baru.

 

Namun, Engler merasa ada sesuatu yang janggal dalam pesan tersebut. Setelah mengonfirmasi kepada sejumlah orang lain di bidang yang sama, dia menyadari email itu berasal dari seseorang yang menyamar sebagai Parker.

 

Engler mengatakan tidak dapat berspekulasi mengenai alasan dirinya menjadi sasaran. Sementara itu, Proofpoint menilai pola serangan yang menyasar kurang dari 10 orang dari beberapa organisasi menunjukkan adanya kepentingan intelijen terhadap proses pembuatan kebijakan di AS, bukan semata-mata pencurian teknologi.

 

Parker mengatakan kepada Reuters dia merupakan salah satu dari dua orang yang menerima pesan mencurigakan yang mengatasnamakan dirinya pada awal Juli 2026.

 

Dia menilai dugaan keterlibatan China dalam serangan tersebut masuk akal mengingat persaingan kedua negara di bidang AI.

 

“Amerika Serikat dan China sedang bersaing dalam bidang AI. Mencoba membuat orang-orang di bidang kebijakan AI mengungkapkan informasi mengenai rencana kebijakan AI mereka, jika memang itu tujuannya, bukan sesuatu yang mengejutkan,” kata Parker dilansir dari Reuters.

 

Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Pemerintah China selama ini membantah melakukan operasi spionase siber.