Kerusuhan di Albania meluas seiring meningkatnya demonstrasi anti-pemerintah yang menuntut Perdana Menteri Edi Rama mundur.
Aksi yang berlangsung di ibu kota Tirana itu dipicu berbagai persoalan, mulai dari dugaan korupsi dan tuntutan perbaikan pendidikan hingga kontroversi pembangunan resor di kawasan yang dilindungi secara ekologis, dan dikaitkan dengan keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ribuan orang telah mengikuti demonstrasi yang berlangsung selama berbulan-bulan dan meningkat menjadi bentrokan dengan polisi dalam sepekan terakhir. Para demonstran menargetkan gedung-gedung pemerintah, sementara sejumlah toko di beberapa bagian ibu kota dilaporkan mengalami kerusakan.
Dilansir Euronews, Selasa (20/10/2026), polisi menggunakan meriam air, gas air mata, dan peluru karet untuk membubarkan massa. Sebaliknya, para pengunjuk rasa melemparkan batu, bom molotov, dan kembang api ke arah petugas.
Menurut pihak berwenang, sekitar 300 orang terluka dalam bentrokan tersebut, lebih dari separuhnya merupakan anggota polisi.
PM Albania Salahkan Perang Hibrida
Perdana Menteri Albania Edi Rama pada Selasa kembali menuding aktor asing sebagai pihak yang memperburuk kerusuhan. Sebelumnya, ia menuduh Rusia dan Iran menyebarkan disinformasi di dunia maya.
Dalam pernyataan yang disiarkan langsung saat mengunjungi Kementerian Pendidikan, Rama mengatakan fenomena tersebut telah menjadi perhatian di Eropa.
“Hal ini kini telah diakui dan menjadi isu utama di seluruh Eropa,” katanya.
Edi Rama menyebut, situasi tersebut sebagai perang hibrida yang memanfaatkan persoalan nyata di masyarakat untuk memperbesar ketegangan politik.
“Ini adalah perang hibrida yang mendapatkan daya tarik justru karena berakar pada keluhan yang nyata, bukan sekadar fantasi,” ujarnya.
Ia menyinggung sejumlah persoalan yang menjadi sumber keresahan warga, termasuk kenaikan biaya hidup, sulitnya memperoleh hunian yang terjangkau, serta kekhawatiran mengenai masa depan.
Rama juga mengisyaratkan kemungkinan pelarangan media sosial bagi anak-anak berusia di bawah 16 tahun. Selain itu, ia menyinggung kemungkinan perubahan aturan mengenai usia pertanggungjawaban pidana.
Mahasiswa dan Profesor Ikut Berunjuk Rasa
Demonstrasi di Albania turut melibatkan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa yang menyuarakan tuntutan perbaikan kondisi pendidikan serta penolakan terhadap dugaan korupsi. Pihak kepolisian dan otoritas setempat berulang kali mengecam keterlibatan anak di bawah umur dalam aksi kekerasan.
Ratusan profesor universitas berbaris untuk menyatakan solidaritas kepada para demonstran. Menurut laporan seorang jurnalis AFP di lokasi, mereka juga mengecam kekerasan polisi yang disebut menyasar mahasiswa.
Sambil membawa spanduk bertuliskan “Hentikan kekerasan terhadap mahasiswa”, para peserta aksi kembali menyerukan agar Rama mengundurkan diri.
Bentrokan selama sepekan terakhir juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah gedung pemerintah. Kementerian Pendidikan menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian dalam rangkaian demonstrasi tersebut.
Kontroversi Resor Picu Kemarahan Publik
Protes anti-pemerintah di Albania bermula dari penolakan terhadap pembangunan resor kontroversial di kawasan yang dilindungi secara ekologis. Proyek tersebut dikaitkan dengan keluarga Presiden AS Donald Trump.
Namun, kemarahan terhadap proyek itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Demonstran kini juga menyoroti dugaan korupsi, persoalan pendidikan, kondisi ekonomi, dan tuntutan agar Rama mengakhiri masa jabatannya.
Situasi tersebut menambah tekanan terhadap pemerintah Albania di tengah bentrokan yang telah menyebabkan ratusan orang terluka. Sementara itu, Rama tetap menuding adanya campur tangan asing yang memperkeruh keadaan, meski masyarakat juga menyuarakan keluhan domestik yang telah berlangsung lama.
