DRadioQu.com, PESAWARAN — Gelombang penolakan warga terhadap rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran, terus bergulir tak terhenti. Forum Petani Peduli (FPP) menggelar diskusi putaran kedua yang dipenuhi antusiasme dan keprihatinan, sebagai wadah menampung serta memperkuat suara para petani dan masyarakat yang merasa terancam kerugian besar akibat proyek ini, Jum'at (23/10/2026).
Kekhawatiran paling dalam datang dari Petani Pengguna Air (PPA) yang wilayahnya paling terdampak langsung. "PDAM memang menyebutkan hanya akan mengambil 30% dari debit air Sungai Cirompang. Tapi bagi kami petani, setiap tetes air di musim kemarau sudah seperti nyawa bagi sawah kami," ungkap Ibroh, warga Bayas Jaya yang juga aktif di kelompok tani desa.
Pengalaman pahit sudah dirasakan lebih dulu oleh warga Desa Penengahan. Heri, anggota kelompok tani setempat, tak segan bercerita apa yang terjadi di desanya: "Kami sudah merasakan dampak buruknya. Debit air berkurang drastis, kami kerap gagal panen. Janji 100 warga mendapat akses air gratis pun tak pernah terwujud. Belum lagi hutan di sekitar sumber air terabaikan, perlahan gundul tanpa ada perhatian nyata dari pihak terkait."
Suara dukungan dan komitmen mengawal datang dari KNPI Way Khilau. "Kami siap menjadi garda terdepan membela keluhan petani dan masyarakat. Jika proyek ini berjalan tanpa solusi yang adil, kerugian akan menimpa kami semua, terlebih saat musim kemarau di mana air menjadi barang yang paling berharga," tegas Ikbal Khomsi, Ketua KNPI Way Khilau.
Menutup diskusi, Budiono, Ketua Forum Petani Peduli, menegaskan dukungan penuh terhadap seluruh langkah yang disepakati warga, dengan satu prinsip teguh: "Perjuangan ini harus berjalan di jalur hukum dan peraturan yang berlaku. Tuntutan kami sampaikan dengan terang, berani, dan tertib."
Berdasarkan hasil diskusi tersebut, FPP berencana segera mengirimkan surat resmi kepada DPRD Kabupaten Pesawaran. Tujuannya: meminta digelarnya Rapat Dengar Pendapat (RDP) serta memfasilitasi pertemuan langsung warga Way Khilau bersama PDAM Pesawaran, Camat Way Khilau, para Kepala Desa yang dilalui jalur proyek, dan seluruh pihak terkait. Semua demi memastikan keluhan warga didengar dan solusi yang adil ditemukan, sebelum kerugian yang tidak dapat diperbaiki terjadi.
Hingga berita ini diterbitka, media tetap menyisakan ruang tanggapan bagi pihak proyek/pemerintah, sesuai prinsip kebenaran dan keberimbangan Kode Etik Jurnalistik. (Brm)