Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menegaskan masa jabatannya akan berakhir pada 2030 dan menolak wacana perubahan konstitusi untuk memperpanjang kekuasaannya -->

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menegaskan masa jabatannya akan berakhir pada 2030 dan menolak wacana perubahan konstitusi untuk memperpanjang kekuasaannya

Minggu, 18 Oktober 2026

 Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menegaskan masa jabatannya akan berakhir pada 2030 dan menolak wacana perubahan konstitusi untuk memperpanjang kekuasaannya. Pernyataan itu muncul di tengah dorongan dari sejumlah pendukungnya agar ia dapat menjabat untuk periode keempat.


Dalam upacara kelulusan di Akademi Militer Mesir pada Sabtu (17/10/2026), Sisi menegaskan konstitusi tidak akan diubah untuk memperpanjang masa kepresidenannya.


“Masalah ini sudah sepenuhnya diputuskan dan tidak akan dibahas,” ujar Sisi, merujuk pada berakhirnya masa jabatannya pada 2030, dilansir dari Reuters.


Sisi juga memaparkan rencana program pendidikan selama 30 bulan di Akademi Militer Mesir untuk mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Program tersebut akan menyasar pemegang gelar doktor dari universitas terkemuka di Mesir maupun luar negeri.


Para peserta akan mempelajari negara, sumber dayanya, serta cara menjaga dan mengelolanya. Menurut Sisi, lulusan program itu akan dipersiapkan untuk menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari presiden, menteri, kepala pemerintahan daerah, hingga anggota parlemen.


Dalam upacara tersebut, Sisi mengatakan sebuah komite akan dibentuk untuk merumuskan kriteria seleksi peserta dan menyusun rancangan undang-undang terkait program pendidikan tersebut. Komite itu akan berada di bawah pengawasan ketua parlemen serta melibatkan kalangan intelektual, politikus, dan menteri pendidikan tinggi serta kehakiman.


Ia juga menyebut program tersebut akan memberi kesempatan bagi masyarakat Mesir untuk memilih pemimpin dari kalangan lulusan akademi. Namun, Sisi belum menjelaskan mekanisme pencalonan lulusan untuk mengisi jabatan yang dipilih melalui pemilu maupun jabatan yang ditunjuk.


“Saya tidak akan meninggalkan negara Mesir sebelum negara ini dipenuhi putra-putri yang mampu mengemban tanggung jawab,” kata Sisi.


Dorongan agar Sisi tetap berkuasa setelah 2030 sebelumnya muncul dari kalangan pendukungnya. Kampanye yang mengusulkan periode keempat mengemuka pada 2026, meski belum menghasilkan perubahan konstitusi yang disahkan untuk membuka jalan bagi masa jabatan tambahan.


Pada 2019, Mesir mengamendemen konstitusi yang memperpanjang masa jabatan presiden dari empat menjadi enam tahun. Perubahan tersebut juga memuat ketentuan khusus yang memungkinkan Sisi, yang pertama kali terpilih pada 2014 dan kembali menang pada 2018, mencalonkan diri untuk periode ketiga.


Sisi kemudian terpilih kembali pada Desember 2023 untuk masa jabatan enam tahun yang berakhir pada 2030. Berdasarkan ketentuan yang berlaku saat ini, ia tidak dapat menjalani periode keempat secara berturut-turut tanpa perubahan konstitusi lebih lanjut.


Sisi, 71 tahun, merupakan mantan jenderal yang menjadi presiden pada 2014, setahun setelah menggulingkan Mohamed Morsi, presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis. Morsi berasal dari Ikhwanul Muslimin dan digulingkan setelah gelombang demonstrasi besar-besaran.


Setelah berkuasa, Sisi menindak keras Ikhwanul Muslimin, organisasi Islamis tertua di Timur Tengah. Di bawah kepemimpinannya, pengaruh militer juga meluas melampaui pertahanan negara hingga ke sektor ekonomi dan urusan sipil.