Sel darah merah dan sel darah putih memiliki peran penting
dalam menjaga kesehatan tubuh. Sel darah merah bertugas mengangkut oksigen dari
paru-paru ke jaringan tubuh, sedangkan sel darah putih membantu sistem
kekebalan menghadapi infeksi dan zat asing yang berpotensi membahayakan
kesehatan.
Kedua jenis sel tersebut merupakan bagian dari komponen
darah yang bekerja dengan fungsi berbeda. Kekurangan sel darah merah dapat
mengurangi pasokan oksigen ke jaringan, sementara gangguan jumlah atau fungsi
sel darah putih dapat memengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi.
Memahami perbedaan keduanya dapat membantu mengenali cara
tubuh memenuhi kebutuhan oksigen dan mempertahankan sistem pertahanan. Selain
itu, pemeriksaan darah dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi kesehatan
yang berkaitan dengan kedua jenis sel tersebut.
Mengenal Komponen Darah dan Fungsinya
Darah terdiri atas plasma dan komponen padat yang mencakup
sel darah merah, sel darah putih, serta trombosit atau keping darah.
Plasma merupakan bagian cair darah yang mengandung air,
garam, dan protein. Sementara itu, ketiga komponen padat memiliki tugas khusus.
Sel darah merah mengangkut oksigen, sel darah putih mendukung sistem kekebalan,
dan trombosit membantu pembekuan darah ketika terjadi luka atau perdarahan.
Jumlah dan karakteristik setiap komponen dapat memberikan
petunjuk mengenai kondisi kesehatan seseorang. Karena itu, pemeriksaan darah
kerap digunakan untuk membantu mengevaluasi fungsi tubuh dan mendeteksi
kemungkinan gangguan kesehatan.
Sel darah merah atau eritrosit membawa oksigen dari
paru-paru menuju berbagai jaringan dan organ. Proses ini didukung oleh
hemoglobin, protein yang mengandung zat besi dan berfungsi mengikat oksigen
sekaligus memberikan warna merah pada darah. Berikut tiga fungsi utama sel
darah merah.
1. Menyalurkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh
Dijelaskan dalam laman resmi National Health Service (NHS)
Inggris, jumlah dan kemampuan kerja sel darah merah memengaruhi pasokan oksigen
yang dapat disalurkan ke jaringan tubuh.
Selain mengangkut oksigen, sel darah merah memiliki siklus
hidup yang terus diperbarui. Sel ini umumnya bertahan sekitar 120 hari sebelum
digantikan oleh sel baru yang diproduksi di sumsum tulang.
BACA JUGA
10 Cara Mudah Menjaga Jantung Tetap Sehat mulai Hari Ini
Apabila jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin terlalu
rendah, kemampuan darah membawa oksigen dapat menurun. Kondisi tersebut dapat
berkaitan dengan anemia, yang antara lain menimbulkan gejala kelelahan, tubuh terasa
lemah, dan sesak napas, bergantung pada tingkat keparahannya.
2. Mendukung fungsi organ dan aktivitas tubuh
Pasokan oksigen yang memadai membantu jaringan dan organ
bekerja dengan baik. Sel darah merah berperan menjaga ketersediaan oksigen
tersebut melalui peredaran darah.
Jika jumlah sel darah merah terlalu rendah atau kadar
hemoglobin berkurang, kemampuan darah membawa oksigen dapat menurun. Kondisi
ini dapat menyebabkan anemia, yang antara lain ditandai dengan kelelahan, tubuh
terasa lemah, dan sesak napas, bergantung pada tingkat keparahannya.
3. Terus diperbarui oleh tubuh
Sel darah merah memiliki masa hidup yang terbatas. Sel darah
merah umumnya bertahan sekitar 120 hari sebelum digantikan oleh sel baru.
Tubuh memproduksi sel darah merah di sumsum tulang, yakni
jaringan lunak di bagian dalam tulang. Proses pembentukan dan penggantian ini
berlangsung secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Sel Darah Putih Bagian dari Sistem Kekebalan
Sel darah putih atau leukosit membantu tubuh menghadapi
infeksi dan zat asing. Sel ini diproduksi di sumsum tulang dan ditemukan dalam
darah serta jaringan limfatik. Berbeda dengan sel darah merah, sel darah putih
berperan terutama dalam melindungi tubuh dari infeksi dan zat asing yang
berpotensi membahayakan kesehatan.
Leukosit terdiri atas beberapa jenis yang menjalankan
mekanisme pertahanan berbeda. Sebagian menyerang mikroorganisme, sebagian
menghasilkan antibodi atau mengatur respons kekebalan, sementara jenis lainnya
terlibat dalam peradangan dan reaksi alergi.
Ketika tubuh mengalami infeksi atau peradangan, jumlah sel
darah putih dapat berubah. Namun, peningkatan atau penurunan jumlah leukosit
tidak selalu menunjukkan penyakit tertentu sehingga perlu dinilai bersama
gejala dan hasil pemeriksaan lainnya.
Sel darah putih diproduksi di sumsum tulang dan ditemukan
dalam darah serta jaringan limfatik. Ketika tubuh menghadapi infeksi atau
mengalami cedera, sel-sel ini dapat bergerak menuju jaringan yang membutuhkan
respons pertahanan.
Fungsi sel darah putih tidak terbatas pada melawan
mikroorganisme. Berbagai jenis leukosit juga membantu mengenali ancaman,
mengatur respons kekebalan, serta mendukung proses penanganan jaringan yang
rusak.
1. Melawan bakteri, virus, dan penyebab infeksi
Sel darah putih membantu tubuh menghadapi mikroorganisme
penyebab penyakit, termasuk bakteri dan virus. Sel-sel ini bekerja melalui
berbagai mekanisme pertahanan untuk mengenali atau menghancurkan ancaman yang
masuk ke dalam tubuh.
Saat terjadi infeksi, tubuh dapat meningkatkan produksi sel
darah putih sebagai bagian dari respons kekebalan. Namun, peningkatan jumlah
leukosit tidak selalu menandakan infeksi tertentu karena peradangan, reaksi
alergi, dan sejumlah kondisi lain juga dapat memengaruhinya.
2. Mengenali dan merespons ancaman
Sel darah putih terdiri atas beberapa jenis yang memiliki
tugas berbeda. Sebagian berperan dalam mengenali zat asing, sementara jenis
lainnya membantu menyerang mikroorganisme atau mengatur aktivitas sistem
kekebalan.
Kerja sama antarsel memungkinkan tubuh merespons berbagai
ancaman dengan mekanisme yang sesuai. Karena itu, pemeriksaan jumlah sel darah
putih terkadang perlu dilengkapi dengan pemeriksaan berdasarkan jenis selnya
untuk memperoleh gambaran yang lebih terperinci.
3. Membantu pertahanan dan pemulihan jaringan
Ketika jaringan mengalami kerusakan, sinyal tertentu dapat
menarik sel darah putih ke bagian tubuh yang terdampak. Sel-sel ini membantu
menangani mikroorganisme dan membersihkan sisa sel yang rusak sebagai bagian
dari respons pertahanan.
Proses tersebut berkaitan dengan peradangan dan pemulihan
jaringan. Meski demikian, respons kekebalan perlu berlangsung secara teratur
agar tidak menimbulkan kerusakan pada jaringan tubuh yang sehat.
5 Jenis Sel Darah Putih dan Perbedaannya
Terdapat lima jenis utama sel darah putih, yaitu neutrofil,
limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Masing-masing memiliki karakteristik
dan tugas tersendiri dalam sistem kekebalan.
1. Neutrofil
Neutrofil berperan penting dalam melawan infeksi, terutama
yang disebabkan oleh bakteri. Sel ini dapat menelan dan mencerna mikroorganisme
melalui proses yang disebut fagositosis.
2. Limfosit
Limfosit terdiri atas sel B dan sel T. Sel B dapat
berkembang menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi, sedangkan sel T
membantu mengatur respons kekebalan dan menyerang sel yang terinfeksi.
3. Monosit
Monosit dapat berpindah ke jaringan dan berkembang menjadi
makrofag. Sel tersebut membantu membersihkan mikroorganisme, partikel asing,
serta sisa sel yang rusak.
4. Eosinofil
Eosinofil terutama terlibat dalam respons terhadap infeksi
parasit dan reaksi alergi. Perubahan jumlahnya dapat menjadi salah satu
petunjuk dalam mengevaluasi kondisi tertentu.
5. Basofil
Basofil berperan dalam peradangan dan reaksi alergi dengan
melepaskan zat seperti histamin, yang terlibat dalam munculnya sejumlah gejala
alergi.
Kelima jenis leukosit tersebut bekerja secara terpadu.
Perbedaan fungsi masing-masing memungkinkan sistem kekebalan memberikan respons
yang sesuai terhadap berbagai ancaman.
Pemeriksaan Darah
Jumlah dan karakteristik sel darah dapat membantu dokter
mengevaluasi kondisi kesehatan seseorang. Salah satu pemeriksaan yang umum
dilakukan adalah complete blood count (CBC) atau pemeriksaan hitung darah
lengkap.
Pemeriksaan ini mengukur jumlah dan karakteristik komponen
darah tertentu, termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.
Menurut MedlinePlus, hasilnya dapat membantu mengevaluasi kondisi seperti anemia,
infeksi, gangguan pembekuan darah, kanker darah, serta gangguan sistem
kekebalan.
Pemeriksaan sel darah merah
Pemeriksaan sel darah merah dapat mencakup penghitungan
jumlah sel, pengukuran kadar hemoglobin, serta penilaian ukuran dan
karakteristik sel. Hasilnya membantu dokter menilai kemampuan darah membawa
oksigen dan mengevaluasi kemungkinan anemia.
Jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin yang rendah
dapat berkaitan dengan kekurangan zat gizi tertentu, perdarahan, maupun
gangguan kesehatan lainnya. Penentuan penyebabnya memerlukan evaluasi lebih
lanjut.
Pemeriksaan sel darah putih
Pemeriksaan sel darah putih bertujuan mengukur jumlah
leukosit dalam darah untuk membantu mengevaluasi kemungkinan infeksi,
peradangan, atau gangguan lain yang memengaruhi sistem kekebalan dan produksi
sel darah.
Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan differential white
blood count, yaitu pemeriksaan yang menghitung proporsi masing-masing jenis sel
darah putih. Hasilnya memberikan gambaran lebih terperinci mengenai komposisi
leukosit.
Jumlah sel darah yang berada di atas atau di bawah rentang
rujukan tidak serta-merta menunjukkan penyakit tertentu. Dokter perlu
mempertimbangkan gejala, riwayat kesehatan, penggunaan obat, dan hasil
pemeriksaan lain sebelum menentukan diagnosis.
Sel darah merah dan sel darah putih sama-sama penting bagi
tubuh, tetapi menjalankan tugas yang berbeda. Sel darah merah mendukung
distribusi oksigen, sedangkan sel darah putih menjadi bagian dari pertahanan
terhadap infeksi. Pemahaman mengenai fungsi keduanya dapat membantu masyarakat
mengenali pentingnya pemeriksaan darah dalam mengevaluasi kesehatan.
