Transaksi QRIS cross border di Nusa Tenggara Barat (NTB)
mencapai 79.938 transaksi dengan nominal Rp 26,8 miliar hingga Agustus 2026.
Momentum MotoGP Mandalika pada 9-11 Oktober 2026 dimanfaatkan Bank Indonesia
(BI) NTB untuk memperluas penggunaan pembayaran digital sekaligus membuka pasar
internasional bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
BI NTB memperkuat kesiapan layanan pembayaran dan penukaran
valuta asing selama ajang balap motor dunia di Sirkuit Internasional Pertamina
Mandalika, Lombok Tengah. Langkah ini dilakukan untuk mendukung kelancaran
transaksi wisatawan di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi selama gelaran
MotoGP.
BI NTB mengimbau penyedia jasa pembayaran, baik perbankan
maupun lembaga nonbank, serta penyelenggara kegiatan usaha penukaran valuta
asing bukan bank untuk menjaga keandalan sistem, kesiapan operasional, dan
kualitas pelayanan.
Selain itu, BI NTB mengintensifkan edukasi penggunaan quick
response code Indonesian standard (QRIS), termasuk layanan lintas negara atau
QRIS cross border, di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) dan
sejumlah lokasi strategis.
Saat ini, konektivitas QRIS cross border telah menjangkau
enam negara, yakni Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan
Tiongkok. Melalui layanan tersebut, wisatawan dari negara mitra dapat membayar
transaksi di pedagang yang menggunakan QRIS di Indonesia dengan aplikasi
pembayaran dari negara asal mereka.
Untuk memperkenalkan manfaat layanan tersebut secara
langsung, BI NTB berkolaborasi dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menggelar
edukasi dan pengalaman penggunaan QRIS Cross Border di kawasan Sirkuit
Mandalika. Inisiatif ini diharapkan membuat transaksi wisatawan lebih cepat,
mudah, murah, aman, dan andal.
Tak hanya memperkuat transaksi digital, BI NTB juga
memanfaatkan MotoGP Mandalika untuk mempromosikan produk unggulan daerah.
Sejumlah UMKM binaan dan desa wisata menghadirkan produk di kawasan sirkuit,
termasuk Premium Grandstand A.
Produk yang ditawarkan meliputi kopi Dersi Coffee, Ayam
Merangkat dari Desa Wisata Bonjeruk, olahan kacang dan jagung dari Songgajah,
roti dari Rasa Baru, serta kerajinan tangan Bale Rattan. Para pelaku usaha juga
menyediakan pembayaran QRIS untuk memudahkan pengunjung bertransaksi.
Pemilik Dersi Coffee, Made Dewa Satriawan, menilai interaksi
langsung dengan wisatawan mancanegara membuka peluang bagi produk kopi lokal
untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Memiliki produk yang bagus saja belum tentu cukup untuk
membangun bisnis yang sukses. Produk yang baik membuat pelanggan datang, tetapi
hubungan yang baik membuat mereka kembali,” ujarnya.
Made berharap kesempatan mengikuti ajang internasional
seperti MotoGP Mandalika dapat berlanjut setiap tahun agar UMKM lokal semakin
dikenal dan memperoleh pelanggan baru.
Peluang tersebut terlihat dari pengalaman Andreas, wisatawan
asal Italia yang mengunjungi Dersi Coffee. Ia tertarik mencoba kopi Sapit
karena menilai aroma kopi Lombok berbeda dari kopi yang biasa ditemuinya di
Italia. Andreas juga berencana kembali untuk mencicipi varian kopi lainnya.
Capaian transaksi QRIS cross border sebesar Rp 26,8 miliar
hingga Agustus 2026 memperlihatkan aktivitas pembayaran lintas negara di NTB.
Namun, angka tersebut merupakan akumulasi transaksi hingga Agustus, bukan
transaksi khusus selama penyelenggaraan MotoGP Mandalika.
BI NTB berharap penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026
memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, mulai dari kemudahan transaksi
wisatawan hingga perluasan promosi produk lokal.
Ke depan, Bank Indonesia akan memperkuat sinergi dengan
pemerintah daerah, industri sistem pembayaran, dan pelaku usaha untuk
memperluas penggunaan pembayaran digital serta meningkatkan daya saing UMKM.
Dengan demikian, momentum pariwisata internasional diharapkan dapat membuka
peluang usaha yang lebih besar bagi masyarakat NTB.
