Krisis kabut asap (haze) yang melanda Malaysia diperkirakan menimbulkan kerugian kesejahteraan masyarakat sebesar RM 8 miliar (sekitar Rp 35,7 triliun) atau setara US$ 1,97 miliar. -->

Krisis kabut asap (haze) yang melanda Malaysia diperkirakan menimbulkan kerugian kesejahteraan masyarakat sebesar RM 8 miliar (sekitar Rp 35,7 triliun) atau setara US$ 1,97 miliar.

Minggu, 01 November 2026

 

Krisis kabut asap (haze) yang melanda Malaysia diperkirakan menimbulkan kerugian kesejahteraan masyarakat sebesar RM 8 miliar (sekitar Rp 35,7 triliun) atau setara US$ 1,97 miliar. Polusi udara yang berlangsung selama beberapa bulan tersebut juga diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 1.700 kematian dini.

 


Temuan tersebut tercantum dalam laporan terbaru bertajuk The 2026 Fire Season and Transboundary Haze in Malaysia yang dipesan oleh Federation of Malaysian Manufacturers (FMM). Penelitian dilakukan oleh Piyu Ke, kepala ilmuwan Carbon Spur Sdn Bhd, perusahaan analitik yang bergerak di bidang keberlanjutan dan pemantauan karbon.

 

Laporan tersebut menganalisis dampak krisis kabut asap selama periode 1 Juli hingga 22 Oktober 2026. Penelitian menggabungkan pengamatan satelit, pemantauan kualitas udara, pemodelan atmosfer, serta survei industri untuk mengukur dampak kumulatif paparan polusi dalam jangka panjang.

 

Penelitian memperkirakan kabut asap berkontribusi terhadap sekitar 1.700 kematian dini selama periode tersebut. Sekitar 1.600 di antaranya dikaitkan secara langsung dengan asap kebakaran yang berasal dari luar wilayah Malaysia.

 

Para peneliti memperkirakan beban ekonomi terkait dampak kesehatan dari kematian tersebut mencapai RM 3 miliar hingga RM 15 miliar (sekitar Rp 13,4 triliun hingga Rp 67 triliun). Nilai tersebut mencerminkan kesediaan masyarakat untuk membayar guna mengurangi risiko kematian dini (willingness to pay), bukan kerugian langsung terhadap aktivitas ekonomi. Karena itu, angka tersebut tidak dapat dijumlahkan dengan komponen kerugian ekonomi lainnya.

 

Peneliti menegaskan, angka kematian tersebut merupakan estimasi statistik pada tingkat populasi, bukan jumlah kematian yang telah diidentifikasi secara individual.

 

Laporan itu juga mengakui sejumlah keterbatasan penelitian, terutama karena sebagian besar bukti yang digunakan bersumber dari kebakaran hutan, bukan kebakaran lahan gambut.

 

Jika asap kebakaran diasumsikan memiliki tingkat bahaya yang tidak lebih tinggi dibandingkan partikel halus (fine particulate matter) pada umumnya, estimasi jumlah kematian dini akan turun menjadi sekitar 600 orang.

 

Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, kabut asap berkepanjangan juga mengganggu kegiatan manufaktur dan kehidupan sehari-hari di Malaysia.

 

Penutupan sekolah akibat polusi udara diperkirakan menyebabkan hilangnya 8,4 juta hingga 13,4 juta hari belajar siswa. Kondisi tersebut turut berdampak pada ketersediaan tenaga kerja karena sebagian karyawan harus tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak mereka yang tidak dapat bersekolah.

 

Survei terhadap 86 lokasi usaha anggota FMM menunjukkan lebih dari dua pertiga responden mengalami gangguan operasional. Dari 59 lokasi yang merinci dampaknya, sebanyak 81% melaporkan peningkatan jumlah karyawan yang mengambil cuti sakit. Sementara itu, 63% mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan tenaga kerja karena sebagian karyawan harus berada di rumah untuk mendampingi anak mereka.

 

Dampaknya terhadap produksi juga cukup signifikan. Sebanyak 37% lokasi usaha yang mengalami gangguan melaporkan penurunan output. Kemudian, 27% terpaksa menghentikan sementara setidaknya satu kegiatan operasional, sedangkan 14% lainnya menghadapi keterlambatan jadwal produksi dan pengiriman.

 

Namun, laporan tersebut mengingatkan hasil survei belum sepenuhnya mencerminkan kondisi industri secara nasional. Sebagian besar responden berasal dari kawasan industri Selangor dan