Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengindikasikan
bahwa Amerika Serikat telah menyerang fasilitas dermaga yang diduga digunakan
untuk memuat kapal-kapal penyelundup narkoba di sepanjang kawasan pesisir,
sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap Venezuela. Namun, pemerintah AS
belum memerinci lokasi maupun pihak yang melakukan operasi tersebut.
Trump pertama kali menyinggung dugaan serangan itu dalam
wawancara radio dadakan pada Jumat (26/12/2025), sebelum kembali menegaskannya
saat ditanya wartawan pada Senin (29/12/2025) mengenai laporan ledakan di
Venezuela.
“Terjadi ledakan besar di area dermaga tempat mereka memuat
kapal-kapal dengan narkoba,” kata Trump saat bertemu Perdana Menteri Israel
Benjamin Netanyahu di Florida, dikutip dari Boston Herald, Selasa (30/12/2025).
“Mereka memuat
kapal-kapal dengan narkoba, jadi kami menyerang semua kapal dan sekarang kami
menyerang area tersebut. Area itu sudah tidak ada lagi,” sambungnya.
Trump menyebut lokasi tersebut sebagai pusat operasional
pemuatan narkotika ke kapal-kapal yang menuju Amerika Serikat. Namun, ia
menolak mengungkapkan apakah serangan tersebut dilakukan oleh militer AS atau
CIA, serta tidak secara eksplisit mengonfirmasi bahwa operasi itu terjadi di
wilayah Venezuela.
“Saya tahu persis siapa pelakunya, tetapi saya tidak ingin
menyebutkannya. Anda tahu itu terjadi di sepanjang pantai,” kata Trump.
Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari operasi
intensif AS terhadap kapal-kapal yang dituduh menyelundupkan narkoba, yang
selama ini dilakukan di perairan internasional di Laut Karibia dan Samudera
Pasifik timur. Dalam beberapa bulan terakhir, operasi itu dilaporkan semakin
mendekati aksi darat, bukan sekadar intersepsi laut.
Dalam panggilan telepon ke penyiar radio John Catsimatidis
di WABC pada Jumat, Trump mengklaim AS telah menghancurkan fasilitas besar
tempat kapal-kapal narkoba diberangkatkan.
“Mereka punya pabrik besar atau fasilitas besar tempat
kapal-kapal itu berasal. Dua malam lalu, kami menghancurkan itu. Kami menyerang
mereka dengan sangat keras,” ujarnya, tanpa memberikan perincian tambahan.
Hingga Senin, Pentagon belum mengonfirmasi adanya serangan
terhadap fasilitas darat dan mengarahkan pertanyaan kepada Gedung Putih.
Sementara itu, akun resmi militer AS juga belum mengumumkan operasi tersebut.
Pemerintah Venezuela pun belum memberikan tanggapan resmi.
Trump sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa ia mengizinkan
CIA melakukan operasi rahasia di Venezuela pada Oktober 2025 lalu. Selain itu,
AS dilaporkan telah mengerahkan kapal perang, membangun kekuatan militer di
kawasan, serta menyita dua kapal tanker minyak dan mengejar kapal tanker
ketiga.
Pemerintahan Trump menyatakan Amerika Serikat kini berada
dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba dan berupaya menghentikan aliran
narkotika ke dalam negeri.
Namun, Presiden Venezuela Nicolás Maduro menilai operasi
militer AS bertujuan untuk menekan dirinya agar lengser dari kekuasaan. Kepala
Staf Gedung Putih Susie Wiles bahkan menyebut Trump ingin terus menghantam
kapal-kapal hingga Maduro “menyerah”.