Aktivitas Gunung Merapi masih tinggi pada Senin (23/2/2026)
pagi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi
(BPPTKG) melaporkan terjadi guguran lava dengan jarak luncur maksimal 2
kilometer.
Aktivitas Gunung Merapi masih tinggi pada Senin (23/2/2026) pagi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadi guguran lava
Gunung api aktif yang berada di perbatasan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah itu tercatat mengalami lima kali guguran lava
selama periode pengamatan pukul 00.00 WIB-06.00 WIB.
Berdasarkan laporan resmi BPPTKG, guguran lava mengarah ke
Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menegaskan, hingga kini
status Gunung Merapi masih berada pada level III atau siaga.
“Teramati lima kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan
jarak luncur maksimum 2.000 meter,” ujar Agus dalam keterangan resminya, Senin
(23/2/2026).
Secara kegempaan, aktivitas Merapi juga masih terpantau
intens. Tercatat 33 kali gempa guguran dengan amplitudo 1-39 mm dan durasi
65,79-170,69 detik.
Selain itu, terjadi 31 kali gempa hybrid atau fase banyak
dengan amplitudo 1-26 mm dan durasi 12,72-40,45 detik. BPPTKG juga mencatat
tiga kali gempa tektonik jauh dalam periode pengamatan tersebut.
Data ini menunjukkan suplai magma dan dinamika internal
Gunung Merapi masih aktif sehingga potensi guguran lava dan awan panas tetap
perlu diwaspadai.
Dari sisi meteorologi, cuaca di sekitar Gunung Merapi terpantau
berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah ke arah barat dengan suhu udara berkisar
18,3-20 derajat celsius.
Kelembaban udara tercatat antara 88%-98,9% dengan tekanan
udara 870,5-913 mmHg. Secara visual, puncak gunung tertutup kabut 0-III dan tidak
teramati asap dari kawah.
BPPTKG menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava
dan awan panas guguran, terutama pada sektor selatan-barat daya yang meliputi
Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan
Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup
Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5
kilometer.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di
wilayah potensi bahaya Gunung Merapi. Warga juga diminta mewaspadai ancaman
lahar dan awan panas guguran, khususnya saat terjadi hujan di sekitar lereng
Merapi.
Status siaga (level III) menandakan adanya peningkatan
aktivitas vulkanik yang signifikan dan berpotensi menimbulkan erupsi
sewaktu-waktu. Oleh karena itu, masyarakat dan pemangku kepentingan diminta
terus memantau informasi resmi dari BPPTKG terkait perkembangan aktivitas
Gunung Merapi hari ini.