Diduga Sajikan Makanan Tak Layak, Distribusi MBG di SDN 06 Way Khilau Tuai Kecaman -->

Diduga Sajikan Makanan Tak Layak, Distribusi MBG di SDN 06 Way Khilau Tuai Kecaman

Sabtu, 14 Februari 2026



DRadioQu.com, PESAWARAN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan. Di SD Negeri 06 Way Khilau, Kabupaten Pesawaran, diduga terjadi pembagian makanan yang tidak layak konsumsi, bahkan berpotensi mengancam kesehatan siswa. Sejumlah wali murid menyebut makanan yang disajikan berlendir dan berbau, sementara beberapa siswa dilaporkan mengalami keluhan sakit perut usai menyantap hidangan tersebut.

Ironisnya, pihak sekolah justru terkesan membela dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait. Sekolah berdalih bahwa hanya sebagian “ompreng” yang dinilai bermasalah. Bahkan, beredar informasi bahwa wali murid yang telah mengetahui kejadian tersebut sempat diminta agar tidak memviralkannya. Sikap ini secara tidak langsung menjadi pengakuan bahwa peristiwa tersebut memang terjadi di lingkungan sekolah.

Seorang wali murid menyampaikan keprihatinannya atas insiden tersebut. Ia menilai kejadian ini sangat membahayakan kesehatan anak-anak dan mencederai niat baik pemerintah melalui program MBG.

“Saya sangat menyayangkan dan prihatin. Nasi goreng yang dibagikan sebagian basi. Ini berbahaya bagi kesehatan anak-anak. Niat baik pemerintah memberikan gizi malah ternodai oleh pengelolaan yang tidak bertanggung jawab. Makanan basi jelas berisiko mengandung bakteri,” ujarnya pada Jum'at, 06 Februari 2026.

Saat dikonfirmasi di sekolah, seorang perwakilan bernama Ibu Ayu—yang diarahkan oleh dewan guru untuk memberikan keterangan—menyampaikan pernyataan yang terkesan ragu. Ia mengaku sempat mencicipi makanan tersebut dan menilai masih layak konsumsi, meski mengakui sebagian hidangan dalam kondisi “benyek”, namun menurutnya bukan basi.


Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan dokumentasi video yang diterima media. Dalam rekaman itu terlihat nasi MBG telah dikemas dalam plastik untuk dijadikan pakan ternak, disertai suara yang menyebutkan bahwa nasi tersebut sudah basi.

Media kemudian mendatangi dapur MBG yang berlokasi di Desa Tanjung Kerta untuk meminta klarifikasi. Owner SPPG, Baheram Syah Utama, mengakui telah menerima laporan dari pihak sekolah dan langsung menindaklanjutinya ke lokasi. Namun, ia kembali menyatakan bahwa menu nasi goreng tersebut tidak basi, melainkan hanya benyek.

“Pihak SPPG sudah turun ke sekolah dan menindaklanjuti laporan. Kesimpulannya nasi bukan basi, tapi benyek. Saya sendiri belum menerima kronologi lengkap dari tim di lapangan. Sebagai mitra MBG, saya akan berkoordinasi dengan Rohman untuk memberikan keterangan yang lebih jelas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SPPG melalui pesan WhatsApp menyampaikan bahwa pihaknya telah mendatangi sekolah dan menyampaikan permohonan maaf.

“Kami sudah ke sekolah dan meminta maaf. Pihak sekolah menyampaikan nasi gorengnya memang agak benyek. Ke depan disarankan tidak lagi menyajikan nasi goreng. Ini menjadi evaluasi kami agar lebih hati-hati,” tulisnya singkat.

Peristiwa ini menambah daftar catatan kritis terhadap pelaksanaan program MBG di daerah. Publik kini menunggu langkah tegas dari pihak terkait untuk memastikan standar keamanan pangan benar-benar dijalankan, karena urusan gizi anak tidak boleh ditangani dengan standar ‘masih bisa dimakan’.

Yang pasti, Redaksi mencatat adanya rencana penyampaian keterangan resmi lanjutan dari pihak pengelola SPPG melalui mitra terkait. Namun hingga berita ini ditayangkan, klarifikasi tambahan tersebut belum terlaksana. Namun Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak terkait sesuai ketentuan Kode Etik Jurnalistik. (Brm)