Rusia akan memantau langkah Amerika Serikat setelah
perjanjian yang membatasi senjata nuklir kedua negara (New START) berakhir,
kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Ia juga menegaskan bahwa Rusia tidak akan menjadi pihak
pertama yang memicu eskalasi.
"Kami akan mengamati dengan saksama bagaimana pihak
Amerika akan bertindak sekarang, setelah tidak ada lagi pembatasan
formal," kata Lavrov dalam wawancara dengan stasiun televisi NTV, Selasa
(10/2).
Ia menambahkan bahwa Rusia juga akan menyikapi situasi
tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Menurut Lavrov, sulit membayangkan perjanjian pengendalian
senjata multilateral di masa depan tanpa memperhitungkan kemampuan militer dua
sekutu AS: Inggris dan Prancis.
Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump yang
menekankan kembali perlunya membuat kesepakatan dengan China.
"China telah berkali-kali menyampaikan sikapnya, dan
kami menghormatinya," kata Lavrov.
Namun, ia memperingatkan bahwa upaya AS untuk menarik China
ke dalam perundingan berisiko mengalihkan fokus dari substansi utama persoalan
pengendalian senjata.
Pada Senin, Trump dikabarkan sedang mengkaji opsi untuk
memperluas armada nuklir AS dan uji coba senjata nuklir di bawah tanah setelah
Traktat Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) berakhir pada 5
Februari.
Perjanjian itu membatasi jumlah hulu ledak strategis yang
dapat disiagakan kedua negara, paling banyak 1.550 unit. Trump menolak
perpanjangan informal yang diusulkan Presiden Rusia Vladimir Putin.