Rusia akan memantau langkah Amerika Serikat setelah perjanjian yang membatasi senjata nuklir kedua negara (New START) berakhir -->

Rusia akan memantau langkah Amerika Serikat setelah perjanjian yang membatasi senjata nuklir kedua negara (New START) berakhir

Rabu, 11 Februari 2026

 


Rusia akan memantau langkah Amerika Serikat setelah perjanjian yang membatasi senjata nuklir kedua negara (New START) berakhir, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Ia juga menegaskan bahwa Rusia tidak akan menjadi pihak pertama yang memicu eskalasi.

"Kami akan mengamati dengan saksama bagaimana pihak Amerika akan bertindak sekarang, setelah tidak ada lagi pembatasan formal," kata Lavrov dalam wawancara dengan stasiun televisi NTV, Selasa (10/2).

Ia menambahkan bahwa Rusia juga akan menyikapi situasi tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Menurut Lavrov, sulit membayangkan perjanjian pengendalian senjata multilateral di masa depan tanpa memperhitungkan kemampuan militer dua sekutu AS: Inggris dan Prancis.

Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menekankan kembali perlunya membuat kesepakatan dengan China.

"China telah berkali-kali menyampaikan sikapnya, dan kami menghormatinya," kata Lavrov.

Namun, ia memperingatkan bahwa upaya AS untuk menarik China ke dalam perundingan berisiko mengalihkan fokus dari substansi utama persoalan pengendalian senjata.

Pada Senin, Trump dikabarkan sedang mengkaji opsi untuk memperluas armada nuklir AS dan uji coba senjata nuklir di bawah tanah setelah Traktat Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) berakhir pada 5 Februari.

Perjanjian itu membatasi jumlah hulu ledak strategis yang dapat disiagakan kedua negara, paling banyak 1.550 unit. Trump menolak perpanjangan informal yang diusulkan Presiden Rusia Vladimir Putin.