Sutradara Upie Guava mengatakan jadwal penayangan film tersebut yang berdekatan dengan momentum Lebaran 2026 sangat membanggakan -->

Sutradara Upie Guava mengatakan jadwal penayangan film tersebut yang berdekatan dengan momentum Lebaran 2026 sangat membanggakan

Sabtu, 14 Februari 2026

 

Sutradara Upie Guava mengatakan jadwal penayangan film tersebut yang berdekatan dengan momentum Lebaran 2026 sangat membanggakan, karena Lebaran menjadi waktu spesial (prime time) dalam kalender perfilman nasional.

 


Sutradara yang kerap menggarap klip video sejumlah band besar di Tanah Air, termasuk Seventeen, NOAH, dan Ungu, itu mengaku tidak pernah menyangka film layar lebarnya bisa mendapatkan jadwal tayang spesial tersebut.

"Jadi yang pasti ini Lebaran ter-flexing gue seumur hidup. Kami tuh enggak menyangka bakal naik tayang Lebaran. Kayaknya sudah enggak mungkin lah, karena tidak ada alasan logis yang memvalidasi bahwa kami akan dapat," ujar Upie Guava saat ditemui ANTARA di kawasan Menteng, Jakarta, Jumat.

Ia juga menyampaikan kepada para kru agar ikut membanggakan film tersebut saat berkumpul dengan keluarga besar masing-masing pada momen Idul Fitri nanti. Ia meminta seluruh tim semakin optimistis dengan melihat pencapaian film animasi sebelumnya yang mampu meraih 10 juta penonton saat memulai penayangan di hari Lebaran.

Film "Pelangi di Mars" tidak hanya menyajikan animasi, tetapi juga dipadukan dengan aksi langsung (live action), yang menunjukkan bahwa talenta perfilman Indonesia tidak kalah dari studio besar seperti Disney atau Pixar yang juga pernah menggabungkan dua format tersebut.

Bedanya, Upie menegaskan seluruh bagian film "Pelangi di Mars" dikerjakan oleh anak bangsa.

"Gue yang paling senang itu adalah animasinya dikerjakan oleh teman-teman kita, orang-orang Indonesia. Jadi dari IP ini, kita sudah kerjakan dengan orang-orang Indonesia, dari berbagai macam latar belakang," kata Upie.

Ia menambahkan, "Ini sebuah ilustrasi sebetulnya bagaimana kita berkolaborasi dengan orang-orang yang biasanya bekerja di film konvensional. Kalau kita mengerjakan bareng-bareng, jadi sebuah semangat baru yang bikin hasilnya terasa berbeda. Jadi jangan merasa inferior (rendah diri). Artinya, kita tidak harus selalu berkiblat ke Korea atau Amerika."

Film itu juga akan disiapkan sebagai kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang berkelanjutan.

Karakter dalam film diharapkan dapat hidup dalam berbagai bentuk produk, seperti komik, baju, tas, hingga boneka figur aksi (action figure), apabila respons penonton sangat antusias.

Upie mengibaratkan pembuatan film "Pelangi di Mars" seperti menanam pohon untuk masa depan. Di dalamnya terdapat pesan lingkungan yang ingin disampaikan, misalnya menggerakkan masyarakat untuk mencegah terjadinya krisis air.

"Pohon itu kita tanam hari ini, sejauh-jauhnya nanti anak-cucu kita bisa makan buahnya," ujarnya.

Produser Dendi Reynando membenarkan bahwa "Pelangi di Mars" tidak hanya disiapkan sebagai satu film yang selesai setelah tayang di bioskop. Menurut dia, film tersebut berpotensi berkembang menjadi dua atau bahkan lima IP sekaligus.

"Jadi harapannya ini lebih dari sekadar film. Setelah ditonton masyarakat luas, kami berharap karakter yang ada di film ini bisa hidup dalam berbagai bentuk produk, baik itu baju, tas, maupun boneka. Seperti IP-IP yang kita kenal selama ini. Mungkin kita bisa lihat anak-anak kita ingin menonton filmnya dan juga membeli bonekanya," kata Dendi.