Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor
Hendra Wardana mengingatkan risiko tertekannya Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) pada pekan depan, imbas memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Hendra, memanasnya konflik antara Iran, Amerika
Serikat (AS) dan Israel bukan hanya sekadar isu politik, namun sudah masuk ke
ranah risiko ekonomi di tingkat global.
"Pasar langsung merespons dengan pola risk-off.
Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di
aset safe haven," ujar Hendra kepada Antara di Jakarta, Minggu.
Apabila eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di
kawasan selat Hormuz, menurut Hendra, dapat menyebabkan harga minyak global
melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan.
"Dampaknya bisa menjalar ke inflasi global, nilai
tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara," ujar Hendra.
Sementara itu, bagi pasar modal Indonesia, Ia menjelaskan
tekanan bisa datang dari dua sisi, diantaranya pertama, potensi capital outflow
(arus dana modal) karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market.
Kemudian, kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga
energi di tingkat global.
Apabila harga minyak bertahan di level tinggi, Ia mengatakan
hal tersebut dapat menyebabkan beban biaya produksi meningkat dan margin
perusahaan tercatat (emiten) dapat tertekan.
"Dalam kondisi seperti ini, IHSG berpotensi bergerak
melemah dan menguji support klasik di level 8.133. Jika level tersebut jebol,
area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara resistance terdekat
berada di 8.300," ujar Hendra.
Namun demikian, menurutnya, tidak semua sektor akan
terdampak negatif.
Bagi investor ritel, Hendra merekomendasikan bahwa sikap
terbaik adalah disiplin dan selektif.
"Apabila memiliki profil agresif, momentum di sektor
komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko yang ketat," ujar
Hendra.
Sementara itu, bagi investor yang konservatif, menurutnya,
strategi wait and see tetap relevan sambil memantau perkembangan konflik dan
arus dana asing.
"Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan
sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan
menjaga risiko agar tetap terkendali," ujar Hendra.
Data penutupan perdagangan Jumat (27/02) pekan kemarin, IHSG
ditutup menguat 0,23 poin atau 0,00 persen ke posisi 8.235,49. Sementara
kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,53 poin atau 0,42 persen ke
posisi 834,36.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.526.942 kali
transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 47,64 miliar lembar
saham senilai Rp38,24 triliun. Sebanyak 341 saham naik, 315 saham menurun, dan
163 tidak bergerak nilainya.