Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Syaroni Rofii, menilai Indonesia perlu aktif melobi sebanyak mungkin pemimpin dunia -->

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Syaroni Rofii, menilai Indonesia perlu aktif melobi sebanyak mungkin pemimpin dunia

Rabu, 04 Maret 2026

 

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Syaroni Rofii, menilai Indonesia perlu aktif melobi sebanyak mungkin pemimpin dunia dalam upaya mengakhiri konflik Iran–AS–Israel.

 


Syaroni menilai bahwa Indonesia dapat memainkan peran kunci sebagai mediator jika Iran, AS, dan Israel memiliki kepercayaan terhadap Indonesia.

“Kalau ada yang menengahi, ada mediator, mungkin Iran juga bisa menahan diri. Jadi, orang itu bisa berdamai kalau ada trust,” ujar Syaroni.

Pada 28 Februari, AS dan Israel menyerang Iran dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah dan menutup Selat Hormuz, yang mengakibatkan ratusan kapal tanker tidak dapat melewati jalur laut tersebut.

Menurut Syaroni, jika Selat Hormuz terus ditutup, maka harga minyak dunia berpotensi naik, menyatakan bahwa saat ini harga minyak dunia sudah mencapai 70 dolar AS (Rp1,1 juta) per barel.

“Jadi, Indonesia punya kepentingan untuk memastikan bahwa harga minyak ini harus ditekan, dan caranya adalah dengan menghentikan perang,” kata Syaroni.

Menurutnya, Indonesia dapat menjadi mediator melalui Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan mekanisme PBB.

“Di BOP itu ada Israel dan Amerika di dalamnya…Indonesia juga bisa menggalang dukungan dari negara-negara seperti negara OKI. Karena di negara OKI itu ada para eksportir, ada Saudi, kemudian ada Uni Emirat di dalamnya,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat hubungan internasional Andrea Azzqy dari Universitas Budi Luhur mengatakan penutupan Selat Hormuz mengakibatkan biaya logistik melonjak tinggi.

Menurutnya, Indonesia dan negara-negara konsumen minyak perlu menyiapkan strategi diversifikasi pasokan energi, memperkuat cadangan dan mengurangi ketergantungan impor LNG maupun minyak bumi dari kawasan Teluk.

“Ini kebijakan fiskal kita seperti subsidi terarah dan pengendalian inflasi jadi kunci untuk menjaga stabilitas domestik Indonesia, terutama sambil tetap mendorong diplomasi energi dengan produksi alternatif,” kata Andrea.

Dia menegaskan bahwa serangan ke Iran dan penutupan Selat Hormuz tidak lagi isu kawasan Timur Tengah, melainkan pukulan telak bagi perdagangan dunia karena konflik Iran-AS-Israel menghentikan jantung sistem perdagangan global.

“Kalau promosi energi memang harus dilakukan paralel dengan promosi perdamaian agar ekonomi domestik kita itu, terutama negara Asia Tenggara yang impor minyak itu nggak ikut runtuh,” ujar Andrea.

Pada Senin (2/3), Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz diperuntukkan untuk semua orang.

“Apabila mereka mengharapkan keamanan bagi Selat Hormuz dan wilayah di sana, tentu keamanan dan kenyamanan ini harus berlaku untuk setiap negara yang berada di sana. Jika mereka ingin aman, kami pun sama,” kata Dubes Boroujerdi.