Sebanyak 10 anak dari komunitas-komunitas rentan Jakarta yang tergabung dalam tim Garuda Baru mewakili Indonesia berkompetisi di Piala Dunia Anak Jalanan atau Street Child World Cup 2026 -->

Sebanyak 10 anak dari komunitas-komunitas rentan Jakarta yang tergabung dalam tim Garuda Baru mewakili Indonesia berkompetisi di Piala Dunia Anak Jalanan atau Street Child World Cup 2026

Sabtu, 21 Maret 2026

 

Sebanyak 10 anak dari komunitas-komunitas rentan Jakarta yang tergabung dalam tim Garuda Baru mewakili Indonesia berkompetisi di Piala Dunia Anak Jalanan atau Street Child World Cup 2026 yang digelar di Mexico City, Meksiko, Mei 2026.

 




Tim tersebut merupakan hasil seleksi dari lebih dari 170 peserta yang mengikuti proses pembinaan selama satu tahun terakhir. Para pemain berasal dari lingkungan dengan berbagai tantangan sosial, mulai dari kawasan padat penduduk hingga permukiman hasil relokasi.

“Ini bukan hanya tentang kami bermain di Meksiko. Melalui ajang ini, kami ingin menyuarakan hak-hak anak dan menunjukkan bahwa orang muda dapat membawa perubahan positif. Setiap anak, apapun latar belakangnya adalah pribadi yang berharga, penting, bermartabat dan layak untuk didengar pendapatnya, serta diberi kesempatan untuk berkembang,” kata kapten tim Aryo Topan Artha Gading, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis.

Street Child World Cup merupakan ajang sepak bola internasional yang mempertemukan anak-anak dari berbagai negara dengan latar belakang kerentanan sosial.

Selain pertandingan, kegiatan ini juga menjadi forum global untuk menyuarakan hak anak atas pendidikan, perlindungan, dan kehidupan yang layak.

Adapun ke-10 pemain itu adalah Samuel Steven Siagian (penjaga gawang), Deno Mazra Rasyid, Aryo Topan Artha Gading, Mohamad Azriel Aliansyah, Rizki Firmansyah, Javasha, Danar Saputra, Dino Siswanto, Raehan Alfarezi, dan Izul Hamid.

​​​​Samuel menambahkan, ajang tersebut menjadi kesempatan untuk bertemu dengan peserta dari berbagai negara sekaligus membuktikan bahwa anak dari lingkungan sederhana mampu berprestasi.

Manajer tim Garuda Baru, Jessica Hutting, mengatakan program ini tidak hanya berfokus pada kemampuan sepak bola, tetapi juga pembinaan karakter, kepemimpinan, serta pelatihan komunikasi.

“Garuda Baru bukan sekadar tim sepak bola, melainkan ruang bagi anak-anak untuk menyuarakan pengalaman dan harapan mereka,” ujar Jessica.

Program Garuda Baru merupakan inisiatif bersama sejumlah lembaga non-profit yakni Yayasan Transmuda Energy Nusantara, Yayasan Kampus Diakoneia Modern, dan Yayasan Sahabat Anak yang memiliki fokus pada pemenuhan hak anak.

Pendiri Garuda Baru, Mahir Bayasut, menyatakan kolaborasi tersebut telah berjalan sejak 2013 untuk mendorong advokasi hak anak di Indonesia.

Selain bertanding, delegasi Indonesia juga akan membawa kampanye mengenai hak anak atas lingkungan yang aman dan layak, yang diangkat dari pengalaman para pemain di kawasan tempat tinggal mereka.

Para pemain dijadwalkan menjalani pemusatan latihan pada April 2026 sebelum bertolak ke Meksiko pada Mei untuk mengikuti kompetisi dan forum anak internasional.