Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI '56) Marcella
Zalianty mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam membuat judul film dan
materi promosi film menyusul masalah baliho film berjudul "Aku Harus
Mati."
Baliho film horor itu menuai kritik dari warga dan ahli
kesehatan karena dinilai bisa berdampak buruk terhadap orang dengan kerentanan
psikologis.
"Setiap konsep kreatif pasti ada dampaknya, dan itu
sebaiknya juga kita pikirkan," kata Marcella di Jakarta, Senin.
"Pemilihan kata dalam komunikasi itu harus hati-hati,
karena bisa berdampak secara psikologis, tidak hanya komersial," katanya.
Dia mengemukakan bahwa polemik yang muncul berkaitan dengan
poster promosi film "Aku Harus Mati" bisa menjadi pembelajaran bagi
para pelaku usaha kreatif dalam merancang strategi komunikasi publik.
"Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bagaimana
memilih diksi dan strategi komunikasi yang lebih baik," katanya.
Dalam kasus promosi film "Aku Harus Mati", ia
mengatakan, pembuat film bisa menggunakan pilihan judul lain yang lebih baik.
"Bukan berarti filmnya harus berhenti, bisa saja
diberikan alternatif judul atau pendekatan lain yang lebih aman,” katanya.
Marcella menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara
kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial di industri film.
"Tidak ada benar atau salah, tapi lebih kepada kepekaan
sosial yang perlu dipertimbangkan," katanya.
Dia menyampaikan bahwa mekanisme peninjauan konten
diperlukan untuk memastikan materi yang ditampilkan aman bagi publik.
Berkenaan dengan masalah film "Aku Harus Mati",
dia mengatakan bahwa penilaian sebuah karya film mestinya tidak hanya dilakukan
berdasarkan judul dan materi promosi film saja.
"Kita juga tidak bisa langsung menilai filmnya layak
atau tidak, apalagi kalau belum menonton," katanya.
Masalah dalam pemilihan judul dan materi promosi film itu,
menurut dia, bisa menjadi bahan evaluasi bersama untuk mencegah kerugian pada
masa mendatang.
"Ini bisa menjadi evaluasi bersama dalam sistem dan
kebijakan, supaya dampaknya tidak merugikan," katanya.